Tua Renta Itu, Ibuku

Tua Renta Itu, Ibuku

Ibu, tak bisa kubalas jasamu. Tapi, dukunglah anakmu untuk memperjuangkan kembalinya “ibu” umat ini yang telah lama hilang. Dan dialah khilafah sebagai perisai bagi umat dan semesta.


Oleh: Jumratul Sakdiah

POJOKOPINI.COM — Kejamnya arus kapitalisasi di segala lini, telah mampu lumpuhkan peran dan fungsi. Terutama pada perempuan. Dengan dalih pemberdayaan ekonomi, perempuan diberi semangat untuk mengais sisa-sisa rupiah yang tertinggal di bumi. Mereka rela membiarkan anaknya bergerilya mencari kasih sayang yang tak ia dapatkan dari sosok seorang Ibu.

Kalau tak kerja, maka tak makan. Ini yang jadi semboyannya. Tak ada pilihan lain kecuali harus banting tulang hanya untuk memperoleh sesuap nasi. Tak peduli di tengah panas, terik dan saat pandemi sekalipun. Semuanya ikut digadaikan, baik tenaga, pikiran maupun waktu.

Ayah, sosokmu memang tangguh. Tak kenal letih saat menafkahi anak dan istrimu. Tak mengenal waktu. Pagi, siang, sore bahkan malam. Dia tembus semua “keran” sebagai penghantar rezeki dariNya. Namun, bukan berarti dengan non stop bekerja. Ayah, peroleh uang banyak. Tidak, sekali lagi tidak. Sulitnya memperoleh pekerjaan saat ini. Lelahnya bekerja tapi upah tak seberapa. Tak sebanding dengan kerja keras yang telah ditorehkannya. Tubuhnya belang, karena sebagiannya harus terbakar sengatan matahari di tengah hamparan sawah yang terbentang di semesta.

Saat yang sama seorang anak gadisnya, lulusan universitas bergengsi, bertitelkan S Pd. Pun tak mampu mengubah nasib keluarganya. Siapa yang tak tahu. Bahwa profesi guru tak bernilai di sistem ini. Sosok yang mampu mencerdaskan bangsa. Tapi tak dihargai jerih payahnya. Negara berikan gaji secukupnya, disaat kebutuhan yang kian meningkat harganya. Setiap kata-kata emas yang keluar dari lisannya, terkadang membuatnya sesak, suaranya serak dan batinnnya sering tersiksa.

Mendapati murid yang berulah dan tak beradab, bentukan dari sitem nista ini. Betapa tidak, mereka disuguhkan dengan media yang bebas dikonsumsi. Jutaan konten sampah yang siap menemani hari-hari generasi saat ini. Agaknya sekolah bisa jadikan laundry. Yang dengan membayar saja, pakaian kotor dapat bersih kembali. Tapi anak bukanlah pakaian kotor yang dibawa ke laundry dan siap diambil ketika telah bersih. Tidak, mereka butuh sokongan dari orang tua dan negara.

Maka, di sinilah kesedihan mereka terus bermuara. Kesulitan yang terbuka dari celah mana saja. Mengantri untuk dicatat dalam daftar beban pikiran yang menyesakkan dada. Tapi apalah daya, inilah hidup. Semakin nyata dirasakan penatnya apalagi saat negara tak bisa buat rakyatnya sejahtera.

Melihat kenyataan ini. Arus kapitalisasi negara telah behasil menjadikan ibu hilang fungsi. Impian ummu wa rabatul bait tampakanya hanya sebatas angan. Sistem kejam ini telah menarik perempuan berdaya dalam ekonomi. Mereka harus keluar rumah, bersaing dengan laki-laki untuk memperoleh puing rupiah yang dicari untuk menafkahi keluarga.

Maka sosok wanita tua renta, daging seolah tak menyatu dengan tulang, kulit keriput dan wajah pucat pasi pertanda penyakit yang sedang ia derita. Tak mengahalanginya untuk bekerja. Seharusnya seusia itu, dengan fisik yang kian melemah, dia duduk diam di rumah, istirahat total dan fokus untuk mendidik anak-anaknya. Tapi tidak untuk kondisi ini. Dan tahukah anda sosok tua renta itu, ibuku.

Saat ayam berkokok, ia telah terjaga dari mimpinya. Salat malam tak pernah ia tinggalkan. Bersimpuh di hadapan tuhan selalu ia lakukan. Karena percaya semua terjadi atas kuasaNya. Tak pernah ia mengeluh dengan apa yang telah diperbuatnya.

Pagi yang dingin, embun masih menyelimuti bumi tak membuatnya ragu melangkah demi berikhtiar memperoleh sebagian karunia Allah. Dengan jaket tebal yang membalut tubuhnya dan sesuap nasi, cukup mengganjal di perutnya. Dia pergi dengan ayah menggunakan motor yang sudah 15 tahun menemani sepak terjang mereka. Tersimpan harapan besar setiap harinya. Peroleh rezeki yang berkah dan berlimpah.

Suatu ketika aku pernah melihat mereka di pinggir jalan menuju sekolahku. Sosok perempuan tangguh yang ada di pelupuk mataku, dengan tubuh kurus yang siap berlari mengejar barang dagangannya dan dari kejauhan pandangan mataku sudah tertuju kepada wanita tua renta itu, dan dia adalah ibuku.

Ibu, tak bisa kubalas jasamu. Tapi, dukunglah anakmu untuk memperjuangkan kembalinya “ibu” umat ini yang telah lama hilang. Dan dialah khilafah sebagai perisai bagi umat dan semesta.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *