UEA dan Para Penguasa Muslim yang Merugi Dunia Akhirat

Demikianlah penyakit wahn telah menggerogoti para pemimpin Arab. Setiap pengakuan telah dibeli oleh bujukan material yang signifikan: UEA telah dijanjikan armada jet tempur siluman dan Maroko mendapatkan pengakuan resmi AS yang telah lama dicari atas pendudukannya di Sahara Barat. Sementara itu, Sudan telah dihapus dari daftar negara pendukung terorisme AS.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Gencatan senjata antara Israel dan Palestina berlaku sejak Jumat 21/5/2021. Perang 11 hari telah melumpuhkan fasilitas sanitasi di Gaza, rumah dan infrastruktur lainnya. Kementerian perumahan Gaza mengatakan sebanyak 16.800 unit rumah telah rusak. Dari jumlah tersebut, 1.800 telah tidak layak untuk ditinggali dan 1.000-nya hancur total. Kantor media Hamas memperkirakan pengeboman tersebut menyebabkan kerusakan senilai 40 juta dolar AS di pabrik-pabrik dan fasilitas industri lainnya.

Palestina menang. Meski luluh lantak karena mempertahankan marwah dan harga diri seluruh kaum Muslimin. Namun sayang para penguasa kaum Muslim harus menelan kerugian dunia akhirat. Siapa itu? Pemimpin UEA misalnya. Sebelumnya, Uni Emirat Arab (UEA) mengecam pertempuran Israel-Palestina yang telah memakan banyak korban. Uni Emirat Arab menagih janji Israel pada Abraham Accords yang ditandatangani tahun lalu soal perdamaian dengan Palestina dan menghentikan pencaplokan Tepi Barat (tempo.co 15/5/2021).

Abraham Accords, sebagaimana diketahui, adalah kesepakatan yang ditandatangani oleh Israel bersama pemimpin UEA yang ditengahi oleh pemerintahan Donald Trump. “Sikap kami (untuk gencatan senjata) mengacu pada janji di Abraham Accords untuk generasi saat ini dan masa depan bahwa Israel akan hidup damai, sejahtera, dan bermartabat dengan tetangganya (Palestina),” ujar Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah bin Zayed al-Nahyan, dikutip dari kantor berita Reuters, Sabtu, 15 Mei 2021.

Padahal Allah telah menggambarkan dengan jelas sifat Yahudi,
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 83).

Sejak awal UEA dan para pemimpin negara-negara Muslim di Jazirah Arab yang bertetangga dengan Palestina telah mempecundangi dirinya sendiri ketika memperbaharui hubungan mereka dengan Israel. Sejarah kaum Muslimin akan mencatat mereka sebagai para pengkhianat dan penipu.

UEA adalah negara Arab pertama yang mencabut pembatasan visa bagi warga negara Israel, selain itu mereka juga menjalin kerjasama investasi, sains dan inovasi. UEA dan Bahrain menjadi negara ketiga dan keempat yang menjalin hubungan penuh dengan Israel, setelah Mesir pada tahun 1979 dan Yordania pada 1994.

UEA melihat dirinya harus meningkatkan perekonomian di luar bisnis minyak, kebutuhan untuk mendiversikan ekspornya dan maju ke era digital. Oleh karena itu dia melihat semua itu dapat dipenuhi dengan apa yang dijanjikan Israel, negara penjajah yang miskin sumber daya alam namun kaya teknologi.

Laman asia.nikkei.com pada 10/9/2020 memuat pandangan Eldad Tamir, seorang investor terkemuka di Tel Aviv, mengatakan kepada Nikkei Asian Review, bahwa ia yakin terdapat kesesuaian yang hampir sempurna di aspek ekonomi, geografis dan politik antara Israel dan UEA. Sementara Guy Holtzman, yang mengikuti kancah startup Israel sebagai CEO IVC Research Center, kala itu melihat manfaat normalisasi hubungan dua negara dari dua sudut. Pertama, kedua negara berinvestasi dalam R&D dan inovasi. Menurutnya dengan lebih dari 9.000 perusahaan teknologi baru yang aktif, ribuan investor, dan puluhan ribu manajer berpengalaman, ekosistem teknologi Israel sangat antusias dengan peluang kolaborasi baru dengan mitra UEA.

Kedua, Guy mencatat bahwa sementara investor Amerika, Eropa dan China menggelontorkan uang ke teknologi Israel selama bertahun-tahun, hampir tidak ada pendanaan yang berasal dari sumber-sumber Arab. Normalisasi hubungan ini akan mengubah tren dan menciptakan peluang menguntungkan bagi pemegang saham.

Meski telah terang benderang bahwa Abraham Accord adalah soal uang dan pengkhianatan, namun UEA masih sanggup menipu dunia dengan mengatakan bahwa normalisasi tersebut dilakukan untuk melindungi Palestina! Yaitu menangguhkan aneksasi wilayah Tepi Barat, dimana Israel telah menunggu lampu hijau dari Washington. Perjanjian Israel-UEA digadang sebagai langkah besar menuju perdamaian.

Pengkhianatan UEA menginspirasi pemimpin Arab lainnya, sebut saja Maroko dan Sudan, untuk membelakangi Palestina dan berjabat mesra dengan Yahudi. Hal ini telah dianalisa dengan baik oleh penjajah. Rabbi Marc Schneier yang memimpin dialog antar agama di Teluk selama lebih dari satu dekade, mengomentari bahwa normalisasi memiliki tujuan yang sama, termasuk perang melawan virus corona, perang melawan Iran dan mengamankan perdamaian Timur Tengah.

Namun dibalik itu semua, dia melihat arus bawah yang kuat dari pendalaman pemahaman agama.
Para pemimpin Arab tidak akan mengambil keputusan kecuali pemimpin ulama menyetujuinya.… Begitu mereka bergabung, maka para pemimpin Arab juga,” katanya

Lalu pertanyaannya, ada apa dengan Islam di Arab? Fakta bahwa terjadi liberalisasi dan moderasi Islam secara massif di Timur Tengah telah menjadi rahasia umum. UEA sendiri adalah negara teluk yang paling moderat dan progresif. Liberalisasi dan moderasi agama dianggap sebagai sebuah langkah maju, kemudian negara teluk lainnya mengikuti jejak UEA.

Akibat normalisasi ini Israel semakin jumawa. Pengakuan diplomatik dari dunia Arab merupakan aset strategis yang berharga bagi Israel. Hanya Israel yang merasa aman dan yakin akan tempatnya di kawasan. Bahwa tak ada lagi ancaman eksistensial dimana Israel akan mampu membuat kompromi teritorial, keamanan, dan politik. Bagi Netanyahu, normalisasi ini menjadi dorongan pribadi yang menyelamatkannya dari tuduhan korupsi dan menaikkan popularitas domestiknya yang menurun karena penanganan pandemi.

Pakar pertahanan dari Center for International Policy, William Hartung, menyebut perdagangan senjata sebagai pertimbangan penting dari kesepakatan normalisasi. Dengan menjadi sekutu Amerika, maka UEA, Bahrain, serta Israel bisa mendapat akses bantuan pertahanan dari negeri Paman Sam tersebut. Menurut Hartung, untuk Amerika sendiri, perdagangan senjata mereka akan makin besar. Pada 2019 atau pra-normalisasi, perdagangan senjata Amerika Serikat sudah meningkat 42 persen atau setara US$70 miliar (Rp990 triliun).

Sedangkan Mouin Rabbani dari Arab Studies Institute, berpendapat Amerika Serikat juga diuntungkan dari normalisasi ini. Menurutnya, ke depan akan lebih mudah bagi AS untuk memainkan pengaruh atau mengubah isu utama terkait konflik di Timur Tengah. Adapun target utama Amerika adalah Iran. Sementara bagi Trump saat itu, Abraham Accord telah memberinya pencapaian kebijakan luar negeri saat ia berusaha terpilih kembali pada November 2020.

Demikianlah penyakit wahn telah menggerogoti para pemimpin Arab. Setiap pengakuan telah dibeli oleh bujukan material yang signifikan: UEA telah dijanjikan armada jet tempur siluman dan Maroko mendapatkan pengakuan resmi AS yang telah lama dicari atas pendudukannya di Sahara Barat. Sementara itu, Sudan telah dihapus dari daftar negara pendukung terorisme AS.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh telah mengirimkan surat sebanyak dua kali kepada Jokowi. Melalui Menteri Luar Negerinya Indonesia menegaskan keberpihakannya pada Palestina. Namun disisi lain Indonesia juga mendapatkan tawaran menggiurkan jika bersedia secara resmi mengakui Israel.

Laman thediplomat.com pada 14/1/2021 memuat bahwa laporan pers Israel menyebutkan Indonesia dan Oman menjadi negara berikutnya yang mengakui Israel. Menlu Retno Marsudi langsung membantahnya. Namun realitas menunjukkan meski tidak memiliki hubungan diplomatik formal, Indonesia dan Israel diam-diam menjaga berbagai hubungan di bidang perdagangan, keamanan, dan pariwisata.

Oleh karean banyak perdagangan antara Jakarta dan Tel Aviv disalurkan melalui negara-negara ketiga, membuat volumenya sulit untuk diverifikasi, diperkirakan mencapai $ 400-500 juta pada tahun 2013, yang sebagian besar adalah ekspor Indonesia. Pada tahun 2016, seorang pejabat Israel menghitung totalnya menjadi “ratusan juta dolar setahun.” Sementara Kamar Dagang Israel-Indonesia telah berbasis di Tel Aviv sejak 2009. Demikian pula, diperkirakan 30.000 peziarah Kristen Indonesia mengunjungi Israel setiap tahun, di samping sejumlah besar backpacker dan turis Israel yang bergerak ke arah lain.

Menarik kiranya mencermati tekanan yang dialami oleh sejumlah organisasi masyarakat yang vokal pada Palestina kini justru dianggap sebagai organisasi terlarang. Sementara sejumlah tokoh justru secara terang-terangan menolak ikut campur Indonesia dalam krisis Palestina. Bahkan yang paling menyedihkan, di negara dengan Muslim terbesar dunia ini, konflik Palestina telah menjadi “perang narasi” antara pendukung Palestina dan pro Israel di media sosial.

Benarlah sabda Rasulullah SAW,
Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5: 278, shahih kata Syaikh Al Albani. Lihat penjelasan hadits ini dalam ‘Aunul Ma’bud).

Inilah hikmah Palestina yang tetap berjuang sendiri, sementara pertolongan yang dinanti dari para pemimpin kaum Muslimin justru membelakangi. Dunia telah membutakan mata mereka, hingga pengkhianatannya akan menjadi saksi kerugiannya di dunia dan akhirat.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *