UEA Untold Story dan Progress Investasinya di Aceh

UEA telah menjatuhkan dirinya ke dalam jurang yang sangat dalam, bagaimana dengan Aceh? Apakah semangat untuk maju dan menjadi modern akan segera menimpa kita? Ataukah semua realitas ini kita singkirkan dengan mengedepankan prinsip ukhuwah Islam yang salah kaprah, atau prinsip ta’awun sesama Muslim? Apakah kita tetap bertahan dengan konsep berpikir yang demikian dangkal?


Oleh: Ummu Maryam (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Sumber resmi di Gaza mengatakan bahwa konvoi bantuan yang baru-baru ini dikirim oleh Uni Emirat Arab (UEA) untuk membantu memerangi Covid-19 ternyata berisi barang-barang kadaluarsa dan peralatan yang tidak dapat digunakan. Bantuan yang dibawa UEA dinilai sudah tidak sesuai dan kurang layak dipakai. Dikutip dari Hidayatullah dari Middle East Eye (MEE) pada Sabtu (26/12/2020), pejabat Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan bahwa pasokan bantuan dari UEA itu “berisi peralatan sangat tua yang digunakan dalam tes laboratorium yang tidak sesuai untuk menguji warga terhadap virus corona, selain perangkat lain yang tidak akan membantu pasien Covid-19.”

Sumber tersebut mengatakan bahwa kementerian kesehatan telah menyatakan kemarahannya dan telah mengirim surat ke UEA yang menuntutnya untuk memperbaiki situasi. Sumber itu juga mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan Palestina harus menanggung biaya tinggi dan upaya yang diperlukan untuk menghancurkan barang-barang kadaluwarsa tersebut. Situs berita Emirat Al-Ain sebelumnya melaporkan bahwa konvoi bantuan telah berisi 100 ventilator dan 200.000 alat uji virus corona, barang-barang yang membuat sangat dibutukan Gaza. Al-Ain juga mengindikasikan bahwa konvoi itu berisi lebih dari 14 ton pasokan medis untuk mendukung petugas kesehatan di Jalur Gaza.

Inilah secuil fakta tentang sebuah negara di teluk yang disebut Uni Emirat Arab (UEA). Kini hampir seluruh pejabat teras dan pucuk pimpinan Serambi Mekah sedang menanti kehadiran mereka. Tiga pulau di Aceh yakni Pulau Simeulue, Pulau Banyak di Aceh Singkil dan Pulau Aceh di Aceh Besar telah diusulkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai daerah tujuan wisata yang dikerjasamakan dengan UEA.

UEA sendiri sebelumnya telah menyepakati rencana investasi di Indonesia sebesar USD 22,89 miliar atau setara dengan Rp 314,9 triliun (kurs Rp 14.000) dengan Indonesia. Gubernur Aceh menargetkan dana investasi UEA untuk Aceh USD 3 miliar atau sekitar Rp 42 triliun. UEA berencana akan mengucurkan dana tersebut untuk sektor properti antara lain yang menunjang pariwisata, indutrial estate dan Islamic Development Estate.

Kini Pemerintah Aceh telah membeli satu unit kapal motor penumpang (KMP) untuk lintasan Singkil-Pulau Banyak, telah melakukan pembebasan lahan untuk pengembangan airport, telah membangun dermaga standar kapal. Semua sudah disiapkan dua tahun lalu. Bahkan di awal Desember 2020 Bupati Aceh Singkil, Dulmusrid melakukan focus grub discussion (FGD) dengan dunia perbankan di Banda Aceh. FGD tersebut dalam upaya meminta dukungan perbankan, terkait rencana investasi UEA di Singkil.

Pulau Banyak sendiri adalah sebuah potensi wisata di kepulauan yang terdiri atas 63 pulau. Keindahannya dikabarkan melampaui Bunaken, Pantai Senggigi, Gili Tarawangan dan Mandalika. Turis pun terus berdatangan ke pulau ini. Tidak hanya dari Asia Tenggara, tetapi dari Australia dan Rusia. Namun, jumlah turis yang datang masih sangat minim, kecuali mereka yang benar-benar berjiwa petualang, mengingat jauhnya jarak tempuh ke Pulau Banyak.

Dari Banda Aceh ke Singkil saja jika jalan darat menghabiskan waktu 14 jam untuk jarak tempuh 666,6 km. Dari Singkil naik boat atau naik feri lagi sekitar satu jam untuk jarak tempuh 43 km atau 26 mil. Alternatif lainnya adalah dari Medan ke Singkil. Namun, waktu tempuhnya pun lumayan lama, sekitar delapan jam.

Inilah faktor utama mengapa Pulau Banyak belum dikunjungi oleh banyak wisatawan asing. Untuk mengatasi kendala jarak tersebut, akan dibangun landasan udara di Pulau Banyak. Investasi UEA diharapkan mampu menghadirkan sebuah pelabuhan atau landasan udara di Pulau Banyak. Dengan begitu, turis dari Abu Dhabi bisa langsung terbang ke Pulau Banyak yang waktu tempuhnya hanya lima jam.

Banyak pihak menaruh harapan besar pada proyek ini. Sebuah artikel dari media lokal mengingatkan agar investor dari UEA nantinya menghargai adat istiadat dan budaya yang berlaku di Aceh sebagai satu-satunya provinsi bersyariat Islam di Indonesia. Nah lho, pesannya kok begitu ya? Kan sama-sama Muslim?

Ada banyak realitas yang sungguh miris menimpa jazirah Arab di penghujung zaman, telah terjadi kerusakan yang sangat mendasar pada mereka karena melonggarkan syariat Islam bahkan mencampakkannya. UEA melakukan liberalisasi dan sekulerisasi besar-besaran di tahun 2020. Pada 7 November 2020 diumumkan pelonggaran Syariat. Cara ini mereka lakukan demi memodernisasi negara sekaligus mempromosikan citra Islam yang maju. Padahal salah satu bentuk kerjasama yang akan dijalin UEA dengan Aceh adalah dalam bidang keagamaan. Mengerikan sekali jika cara mereka mengejar kemajuan tersebut ditransfer dalam masyarakat Aceh. Na’udzubillah.

UEA mengumumkan telah mendekriminalisasi alkohol, kumpul kebo dan bunuh diri. Sejak saat itu hal itu tak lagi dilarang. Negara juga menjatuhkan hukuman berat terhadap pelaku pembunuhan demi kehormatan (honor killing). Hal ini dilakukan UEA menjelang menjadi tuan rumah pemeran bertajuk World Expo. Kegiatan ini tak lain adalah ajang menarik investor dan mendatangkan sekitar 25 juta pengunjung ke negara tersebut.

Mengutip dari pikiran-rakyat.com tertanggal 25/12/2020 para pemimpin UEA ramai-ramai mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani di negaranya dan di seluruh dunia ketika pada saat yang bersamaan terjadi agresi Yahudi di bawah pengawasan dan penjagaan tentara Israel di Palestina. Pengkhianatan UEA terhadap Palestina dan kaum Muslimin tak boleh dilupakan. Normalisasi hubungan UEA dengan Israel pada 13 Agustus 2020 telah melukai perasaan kaum Muslimin di seluruh dunia. Sejak itu Dubai menjadi destinasi baru bagi warga Israel.

Kompas.com dari The Independent (19/12/2020), terdapat lebih dari 50.000 orang Israel berwisata ke UEA. Dalam waktu 2 pekan saja sejak penerbangan komersial dimulai antara Tel Aviv dan Dubai juga Abu Dhabi, Israel telah membuat “ledakan pariwisata” yang luar biasa di UEA. Sekonyong-konyong bahasa Ibarani dapat terdengar di seluruh pasar, pusat belanja dan pantai-pantai destinasi wisata. Para pejabat wisata Israel memperkirakan sebanyak lebih dari 70.000 warganya menghabiskan perayaan Hanukkah di UEA yang mayoritas Muslim.

UEA telah menyalakan bom waktu dalam negaranya ketika pintu penjajahan akidah dibuka demikian lebar. Kini terdapat kursus zoom untuk saling mengenal adat istiadat dan etika antara kedua negara. Faktanya, begitu normalisasi diresmikan, kawula muda Israel dan UEA saling berkenalan melalui program tersebut.

Sebuah perusahaan katering lama di Dubai, Treat Gourmet pun mengubah tempatnya menjadi penyedia makanan kosher dalam hitungan minggu. Kosher adalah terminologi dalam aturan makan orang Yahudi. Kosher secara umum artinya layak atau makanan yang layak dimakan. Pusat Komunitas Yahudi setempat memiliki perjanjian dengan pejabat pariwisata Abu Dhabi untuk melatih dan mengesahkan hampir 150 dapur hotel sebagai dapur kosher.

Upaya-upaya itu di antaranya seperti memanggang ikan yang dibungkus alumunium foil untuk ‘melindungi’ dari bekas oven non-kosher. “Mereka benar-benar bekerja keras untuk membantu kami,” Yossi Herzog, pemandu Perjalanan Milenium Israel yang memimpin tur Dubai. “Untungnya, semua daging di sini sudah halal, yang merupakan keuntungan besar,” kata Arun Narayanan, seorang manajer makanan dan minuman di hotel, menjelaskan soal kehalalan, sebuah aturan Islam tentang tata cara penyembelihan yang serupa dengan persyaratan kosher. Seorang Rabbi Yahudi bernama Mendel Duchman bahkan menyebut UEA sebagai tempat terbaik bagi seorang Yahudi. Innalillahi.

UEA telah menjatuhkan dirinya ke dalam jurang yang sangat dalam, bagaimana dengan Aceh? Apakah semangat untuk maju dan menjadi modern akan segera menimpa kita? Ataukah semua realitas ini kita singkirkan dengan mengedepankan prinsip ukhuwah Islam yang salah kaprah, atau prinsip ta’awun sesama Muslim? Apakah kita tetap bertahan dengan konsep berpikir yang demikian dangkal? Padahal investasi yang oleh sebagian milenial Aceh menyebutnya ‘oase sejatinya bukan hanya masalah dunia, ini persoalan surga neraka.

Padahal kita belum bicara politik investasi global yang tak telepas dari penjajahan ekonomi dan politik. Kita belum bicara soal sistem ribawi, kita belum bicara soal prinsib syubhat dan gharar. Kita belum bicara soal mitos-fakta investasi mendongkrak perekonomian. Kita baru mengupas kulitnya saja. Investasi bukan hanya perkara yang menjadi kewenangan pakar ekonomi, karena sejatinya investasi juga terkait dengan iman, terhubung dengan akidah. Karena kita adalah Muslim yang mutlak terikat dengan hukum syariat dalam segala perilaku.

Seharusnya kita tidak hanya berpikir dua kali, namun seribu kali daripada menyesal dibelakang hari. Kita tidak lapar bahkan kita pernah dalam kondisi yang lebih mengenaskan, diterkam peperangan sekaligus dieksploitasi hasil sumber daya alam. Kita telah dikhianati oleh investasi berdekade-dekade dan kita tetap miskin. Karena kapitalis tidak peduli apapun selain uang. Bukankah seharusnya kita belajar?[] Ilustrasi/foto: Antero Aceh

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *