Ummu Afkar’s Diary: Ah Trump, tak Pandai Menari You Katakan Lantai Bejungkit

Ummu Afkar’s Diary: Ah Trump, tak Pandai Menari You Katakan Lantai Bejungkit

Negara kampiun kapitalisme ini sempoyongan dihayak badai Corona. Tapi bukannya mengintrospeksi kebijakan, Trump malah sibuk menuding pihak lain. Kemarin China, sekarang WHO. Sungguh tak mencerminkan sikap seorang negarawan.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Tak pandai menari, dikatakan lantai bejungkit. Inilah pepatah melayu yang sepertinya tepat menggambarkan kegusaran Donald Trump. Sang pemimpin negara adidaya yang hari ini lemah tak berdaya. Pasalnya, hingga Selasa malam jumlah kematian akibat virus corona di AS telah melampaui 25.000 dengan lebih dari 600.000 kasus. Trump pun akhirnya memutuskan menahan dana bantuan untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Demikian berita yang dilansir suara.com 15/04/2020.

Alih-alih mempermudah penanganan virus Corona, sikap Trump ini malah memperumit situasi. Pandemi yang telah menginfeksi hampir 2 juta orang di seluruh dunia, kini berada di tahap kritis. Keputusan Trump tersebut dapat berdampak pada seluruh Negara. Mengingat dunia saat ini sangat mengandalkan WHO dalam mengupayakan agar semua orang mencapai tingkat kesehatan tertinggi. Termasuk dalam pengendalian penyakit menular.

Kontribusi AS dalam pendanaan WHO sangat krusial. Penghentian dana bantuan sukarela AS signifikan berpengaruh terhadap keberlangsungan WHO. Menurut bbc.com (15/04/2020), tahun 2019 saja bantuan AS mencapai 400 juta dolar atau setara dengan 15 persen dari total pendanaan sukarela WHO. Tapi AS kelihatannya memang sering bermasalah. Ternyata saat ini negara itu masih menunggak kontribusi wajib keanggotaan WHO sebesar 99 juta dolar.

Media seperti CNN, BBC dan juga Tempo di 15 April 2020 ini, ramai membahas tudingan Trump terhadap WHO. Sedikitnya ada tiga kesalahan besar WHO yang dituduhkan Trump sehingga pemerintahannya tidak bisa bertindak lebih awal, kehilangan banyak nyawa dan tidak berhasil menyelamatkan pertumbuhan ekonomi. Pertama, penentangan WHO terhadap pembatasan perjalanan yang diberlakukan AS terhadap China dan negara-negara lain pada Januari. Kedua, WHO dinilai mencoba menutup-nutupi wabah virus Corona ketika meledak di China. Ketiga, sikap tidak obyektif WHO yang sehingga terlalu percaya pada klaim pemerintah China terkait keakuratan data jumlah kasus dan kematian akibat Corona tanpa melakukan peninjauan.

Namun klaim itu ditepis Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia justru meminta semua pihak untuk jangan mempolitisasi virus ini. Dalam pernyataannya yang secara implisit mengarah kepada Trump, dia menyerukan agar ‘yang paling kuat’ seharusnya memimpin jalan. Dan dia juga memohon semua pihak karantinakan politik Covid-19. (bbc.com, 15/04/2020)

Trump sendiri banyak menghadapi kritikan baik dari dalam maupun luar negeri karena dianggap meremehkan virus corona di awal penyebaran. Trump sempat menganggap virus corona sebagai flu biasa dan warga AS tidak akan terpengaruh dengan virus serupa SARS tersebut. Pada bulan Januari, sebelum wabah virus Corona meledak di Amerika, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) sesungguhnya sudah memperingatkan Trump bahwa Amerika berpotensi menjadi lokasi selanjutnya. Namun, Trump mengesampingkan peringatan tersebut dan menyebut CDC terlalu khawatir. Kurang lebih dua pekan setelah diperingatkan, baru Trump mengambil tindakan. Ia memulainya dengan mengeluarkan travel restriction. Secara bertahap, ia meningkatkan pembatasan, namun tidak berskala besar. Baru di pertengahan Maret Trump menyebut Amerika darurat nasional virus Corona. Sekarang, Amerika menjadi episentrum virus Corona (COVID-19). (tempo.co, 15/04/2020)

Negara kampiun kapitalisme ini sempoyongan dihayak badai Corona. Tapi bukannya mengintrospeksi kebijakan, Trump malah sibuk menuding pihak lain. Kemarin China, sekarang WHO. Sungguh tak mencerminkan sikap seorang negarawan.

Sikap wolesnya pemerintahan Trump dalam menyikapi sinyalemen wabah covid-19 inilah sebenarnya yang menjadi sumber kekacauan. Seandainya Trump segera antisipasi dengan mengerahkan segala sumber daya untuk menginvestigasi penyakit Covid-19 dan potensi penyebarannya, pastilah kebijakan yang tepat bisa diambil sejak awal.

Sudah tabiatnya negara kapitalis abai terhadap keselamatan rakyatnya. Pemerintah terbiasa menjadi regulator alias wasit saja dalam kehidupan bernegara. Tugasnya menjaga agar pertandingan bisnis dapat berjalan dengan seadil-adilnya versi kapitalisme. Yakni terwujudnya demokrasi ekonomi yang mengakomodir swasta menguasai hajat hidup publik sebesar-besarnya.

Kapan wasit bekerja? Jika ada yang melapor terganggu kepentingan ekonominya. Baru priiiip. Peluit pun disemprit. Dengan langkah gontai wasit turun ke tengah lapangan untuk mengecek. Jika masalah tidak mempengaruhi sektor non riil, maka it’s okay. Wasit kembali ke bangku. Di masa-masa tidak ada komplain, maka wasit pun duduk santai sambil ngopi dan menikmati pisang goreng.

Kapan wasit panik? Kalau daya beli masyarakat sudah menurun, perekonomian melesu dan negara sudah kesulitan pemasukan dari pajak. Barulah seketika itu wasit tergopoh-gopoh masuk ke tengah lapangan dan berpikir keras. Tapi tetap saja anak emasnya adalah ekonomi pasar maya. Ke sana dulu guyuran dana akan mengalir. Rakyat diharapkan selamat dengan trickle down effect. Alahai, rusak nian cara berpikir ala kapitalisme ini.

Negara kapitalis ini kalau kita lihat, seperti dirancang untuk impoten. Tidak berdaya mengelola negara dengan segala permasalahan kompleksnya dengan dalih keterbatasan sumber daya. Padahal sesungguhnya sistem ini sudah mempersempit akses bagi negara untuk mengelola sumber daya alam. Sehingga negara kesulitan pendanaan untuk mengurusi hajat hidup rakyatnya.

Di sisi lain, sistem ini malah memberi peluang yang lebar untuk swasta mengeksploitasi sumber daya alam dengan kecek-kecek undang-undang yang bisa ditata lewat kedip mata. Sumber daya alam semua dikapling para pemilik modal. Dihisap sampai kering hingga tak menyisakan apapun kecuali kerusakan lingkungan.

Selanjutnya kemitraan pemerintah dengan swasta seolah menjadi solusi untuk segala masalah. Maka segala bentuk jasa yang seharusnya bersifat pelayanan publik menjadi mahal. Untuk mendapatkannya rakyat harus bermodal. Negara impoten ini terus dilemahkan akal sehatnya dengan diajak juga untuk berjualan barang dan jasa kepada rakyat agar survive. Karena pajak tak lagi cukup untuk menjadi sumber devisa.

Negara kian hari kian kerontang karena digelayuti benalu kapitalisme. Para kapitalis jahat mencekoki anteknya dengan botol-botol dolar yang memabukkan hingga tujuh generasi. Kemudian menempatkan antek-antek mabuk itu sebagai penguasa via jalur pesta demokrasi. Bahkan kalau perlu sang kapitalislah kemudian yang menjadi penguasa. Mengatur negara sembari menenggak mimpi melahap alam semesta.

Demikianlah kira-kira gambaran negara kapitalis demokrasi. Betapa rusaknya ideologi yang berlandaskan kecerdasan individu semata. Padahal kita semua tau akal manusia memiliki kapasitas terbatas. Sehingga segala persoalan tak pernah tuntas.

Maka kita harus menata kembali peradaban manusia dengan melibatkan sang pencipta. Agar tidak tercetak lagi ke muka dunia pemimpin-pemimpin gusar yang sibuk menuding. Lantai sebenarnya tidak bejungkit Mr President. Anda saja yang telah lelah mengurus negara dengan ideologi kapitalisme sekuler demokrasi. So, take a look at Islam with open eyes and mind. Ideologi terbaik bersumber dari pencipta alam semesta. Dijamin anda tak akan kecewa, insya Allah.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *