Ummu Afkar’s Diary: Berkaca dari Hong Kong, Sembari Meneropong Kekeliruan Ideologi Buatan Manusia

Ummu Afkar’s Diary: Berkaca dari Hong Kong, Sembari Meneropong Kekeliruan Ideologi Buatan Manusia

Islam tidak membebaskan total kepemilikan sebagaimana kapitalisme, atau mengekangnya seperti yang dibuat komunisme. Islam membagi kepemilikan, ada hak milik individu, umum (masyarakat) dan negara. Sehingga masyarakat masih bisa memenuhi naluri baqa’-nya untuk menjadi kaya.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Membuntuti berita itu ternyata seru sekali! Wawasan kita jadi terbuka luas. Apalagi kalau menelusuri berita-berita internasional. Widih, serasa jadi diplomat. Seperti isu RUU Keamanan Nasional Hong Kong yang akan saya sharing-kan hari ini. Luar biasa dampak asimilasi dua ideologi yang tak seirama.

Jadi ceritanya begini. Tahun 2019 kemarin, Pemerintah China kewalahan menghadapi demonstrasi besar selama berbulan-bulan. Aksi protes itu dipicu terbitnya RUU Ekstradisi, yang awalnya dirancang untuk mengatur peradilan warga Hong Kong. Ketika berbuat kejahatan di negara Macau, Taiwan dan Republik Rakyat China, maka akan diadili dengan hukum di wilayah kejadian.

Namun banyak pihak mengkhawatirkan, RUU Ekstradisi ini bisa meluas untuk menangkapi aktivis pro demokrasi dan anti China di sana. Hong Kong hari ini sangat menjunjung kebebasan berpendapat dan demokrasi, Hingga 2047 nanti berlaku prinsip ‘satu negara, dua sistem’ di Hong Kong yang dikembalikan Inggris ke China tahun 1997.

Beijing rupanya menilai kerusuhan politik di Hong Kong berkepanjangan dan dapat mengganggu stabilitas keamanan negara. Sehingga Pemerintah China pun merilis RUU Keamanan Nasional Hong Kong. RUU ini berisi penindakan pidana upaya pemisahan diri, subversi kekuasaan negara, terorisme, dan pihak yang berkolusi dengan pasukan asing serta eksternal sehingga membahayakan keamanan nasional. Rupanya terbaca ada upaya menggoyang Hong Kong agar memisahkan diri dari China.

Selepas itu, protes demi protes pun kembali bergulir. RUU ini dinilai kembali merusak suasana demokrasi yang sudah dibangun lama di Hong Kong. Para aktivis mendatangi konsulat-konsulat negara asing untuk mendapatkan dukungan. AS dan sekutunya yakni Inggris, Australia dan Kanada minus Jepang, segera mengecam RUU baru tersebut. Otoritas Uni Eropa pun turut bereaksi dan mengatakan akan memberikan konsekuensi sangat negatif kepada Pemerintah Cina bakal jika melanjutkan penerapan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong.

Kementerian Luar Negeri Cina mengatakan masalah terkait Hong Kong adalah urusan domestik, dan menolak setiap intervensi asing dalam urusan ini. Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam yang dinilai pro China, juga mengatakan hal senada. Menurut Lam, RUU Keamanan Nasional ini justru langkah bertanggung jawab untuk melindungi mayoritas warga yang taat hukum.

Washington mengancam akan mencabut status khusus Hong Kong, jika undang-undang keamanan ini berlaku. Ternyata Hong Kong berada di bawah hukum AS sejak masih menjadi koloni Inggris dulu, yang memberikan mereka keuntungan perdagangan. Ancaman Amerika ini rupanya akan berpengaruh besar kepada China, yang hari ini menggunakan Hong Kong sebagai perantara untuk transaksi global.

Nah, beginilah gambaran pertarungan demokrasi dengan komunisme. Mereka bisa bersepakat di kapitalisme, tapi tidak pernah sampai pada kesepahaman pengurusan politik dalam negerinya. Komunis tidak pernah pro sama yang namanya kebebasan berpendapat.

Kemudian, simbiosis mutualisme yang dibentang kapitalisme, sering dijadikan senjata untuk menekan negara-negara yang tidak pro demokrasi. Memang demokrasi inilah yang menjadi alat mereka memuluskan jalan merambah berekonomi hingga ke negara lain atas nama investasi.

Kita bisa lihat Hong Kong ini sebagai barang contoh otonomi yang bablas. Otonomi meluas hingga ke masalah politik, hukum dan ekonomi. China mengambil manfaat memang dari keistimewaan posisi hongkong di mata dunia. Tapi kebebasan yang mendorong kritik dan demonstrasi anti pemerintah bukanlah perkara atau pola yang mudah diterima negeri tirai bambu.

Otonomi meluas yang kerap menimbulkan perlawanan ini dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk bagi wilayah-wilayah yang lain. Sementara selama ini, dengan penerapan sistem komunisme di dalam negerilah rakyat bisa patuh tanpa tapi terhadap pemerintah. Sejarah Islam mencatat, disintegrasi dalam negara Khilafah salah satunya adalah akibat pemberian otonomi yang sangat luas dalam bidang ekonomi dan pertahanan keamanan.

Kalau kita melihat dengan jernih, penjagaan China terhadap keamanan dalam negerinya sebenarnya sudah sesuai menurut pandangan Islam. Negara memang harus mempertahankan kewibawaan pemerintahannya dan memata-matai warga asing maupun warga negara sendiri yang terindikasi bersekutu dengan negara asing untuk menggoyangkan kekuasaan pemerintah.

Tetapi ketika yang menjalankan itu adalah penguasa negara komunis, maka menjadi tidak tepat. Karena komunisme telah mengekang fitrah rakyat dalam hal hak milik, hak berusaha dan hak mengagungkan penciptanya (beragama). Negara menjadi satu-satunya pelaku ekonomi. Rakyat hanya pekerjanya.

Islam berbeda dengan kapitalisme dan komunisme. Islam ada di pertengahan. Islam tidak membebaskan total kepemilikan sebagaimana kapitalisme, atau mengekangnya seperti yang dibuat komunisme. Islam membagi kepemilikan, ada hak milik individu, umum (masyarakat) dan negara. Sehingga masyarakat masih bisa memenuhi naluri baqa‘-nya untuk menjadi kaya.

Tetapi negara juga memberi batasan, bahwa ada wilayah yang tidak boleh dikuasai individu tapi dikelola oleh negara. karena itu harta yang harus digunakan bersama oleh rakyat secara gratis atau dengan harga yang sangat murah. Tetapi negara juga diberi keleluasaan untuk mengelola harta yang memang diplotkan sebagai milik negara.

Masya Allah luar biasanya pengaturan Islam. Karena memang, ideologi ini bersumber dari Sang Pencipta. Zat yang Maha Adil, Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Maka kalimat ‘bring back Islam to rule the world‘ telah menemui relevansinya hari ini. Peradaban yang telah membuktikan keagungannya selama lebih dari 13 abad penerapannya.
Allahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *