Ummu Afkar’s Diary: I’m Thinking About the Economy Today

Ummu Afkar’s Diary: I’m Thinking About the Economy Today

Keadaan ini ibarat rumah yang pondasinya ringkih. Rumah bisa langsung roboh meski hanya dihantam gempa kekuatan sedang. Dan satu lagi, berat juga, ya, mengelola negara kalau transaksi pasar maya ini bisa sampai mengguncang perekonomian. Ketidakpastian membayangi. Seperti menyembah investor kita jadinya. Selalu mencari keridaan investor.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Pagi ini bakda subuh, saya tidak punya agenda khusus untuk rumah. Berhubung selama ini banyak berada di rumah, jadi pekerjaan sudah tidak ada yang menumpuk. Rencana sarapan lontong sayur saja, beli di seberang. Jadi pas kalau saya duduk-duduk sebentar untuk mencari inspirasi buat bahan tulisan.

Sepanjang masa mirip lockdown ini, kesibukan saya bertambah. Saya banyak menulis. Pasalnya, saya tengah mengikuti kelas menulis online. Tidak satu, tapi dua. Hehe. Saya semangat melihat seorang teman yang produktif sekali dalam menulis. Saya sering membaca tulisannya. Hari ke hari saya lihat kepiawaiannya menulis opini
semakin mendekati sempurna.

Hari ini, tugas menulis diawali dengan mencari berita. Kalau kata salah seorang cikgu saya, membuntuti berita. Bahasa Arabnya, tattabu‘. Hari ini terperhatikan berita tentang ekonomi. Duh, biasanya saya paling menghindari baca berita ekonomi. Selain bukan bidang saya, tulisan-tulisan yang ada sering membuat saya pusing. Banyak istilah dan singkatan yang tidak dimengerti.

Topik yang saya jelajahi adalah ekonomi pasar maya. Penasaran juga, karena selama saya sering mendengar banyak keharaman di dalamnya.

Lama menggulir laman demi laman, akhirnya mata saya terhenti pada sebuah berita. Yakni, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali terkapar pada perdagangan Rabu 31/3/2020. Stimulus berbentuk Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) tak cukup mujarab untuk menyelamatkan IHSG dari kekhawatiran global seputar wabah COVID-19. Demikian dilansir cnbcindonesia.com, 02/04/2020.

Waduh. Baru baca sudah bertemu istilah. Bentuknya singkatan pula. Makhluk apa IHSG ini ya? Seperti kebiasaan emak-emak lainnya, saya pun bertanya ke Mbah Google. Oh, rupanya IHSG ini komponen penting untuk memantau pergerakan harga saham di Indonesia. Para investor biasanya menggunakan parameter dalam IHSG untuk membaca perkembangan harga dan menjadikan acuan pada portofolio.

Duh apa lagi ini portofolio. Sabar, sebentar saya cari dulu artinya. Nah ini. Portofolio saham adalah kumpulan aset investasi berupa saham, baik yang dimiliki perorangan atau perusahaan. Kalau saham, barangkali ibu-ibu tidak asing. Saya yakin emak-emak rempong sekarang wawasannya sudah luas. I know it, because i am part of the club. Hehe. Sederhananya, saham itu mirip-miriplah dengan modal.

Nah kita cek lagi, apa kaitan IHSG dengan perkembangan portofolio saham. Ternyata ketika harga-harga saham di IHSG bergerak lebih tinggi dari kenaikan harga saham portofolio, maka investor dapat mengambil kesimpulan bahwa portofolio saham tersebut sedang memburuk. Nilai jual sahamnya jatuh. Begitu juga sebaliknya.

Bagaimana, Bu, mulai bingung lagi bacanya, ya? Sama, saya juga. Mari kita cek lagi. Mengapa saham atau modal itu bisa diperjualbelikan? Saham itu rupanya surat berharga (berbentuk selembar kertas) yang menunjukkan bahwa pemilik surat atau kertas tersebut adalah pemilik sebuah perusahaan. Memiliki andil memodali perusahaan tersebut.

Bukti kepemilikan modal yang dicatat dalam selembar kertas ini ada harganya sehingga bisa diperjual belikan. Jadi pemilik saham (investor) bisa mendapat keuntungan dari deviden (keuntungan) sekaligus dari harga jual saham yang meningkat. Walaupun berpotensi juga turun. Bagi perusahaan, ini juga bisa menguntungkan. Dengan menerbitkan saham, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pendanaan jangka panjang akan mendapat modal bisnis.

Akibat kondisi ini, pergerakan modal keluar masuk perusahaan begitu tinggi. Maka tadi disebut untuk pendanaan jangka panjang. Artinya yang bisa menggunakan cara ini adalah perusahaan-perusahan besar yang sudah memiliki aset tetap yang mumpuni. Jangan membayangkan untuk usaha mikro dan menengah. Bisa tewas pakai sistem pemodalan model begini.

Ada hal menarik lain untuk ditelaah menurut saya. Yaitu kondisi psikologis perusahaan yang masuk ke bursa (pasar) saham. Kondisi kekuasaan pemilik perusahaan yang menjadi terbatas, membuat perusahaan harus memperhatikan kepentingan bersama para pemegang saham dan menjaga terus hubungan dengan para investornya. Nah di bagian ini saya membaca potensi ancaman. Perusahaan selalu harus memantau kondisi psikologis investor dan menjaganya agar tidak emosional menarik sahamnya dari perusahaan.

Penyulit perusahaan adalah kondisi sosial politik yang bisa memicu sentimen negatif investor. Ini tentu saja tidak bisa dikendalikan perusahaan. Contoh kondisi hari ini dunia dengan wabah Covid-19. Memang seluruh dunia terdampak dengan pandemi ini. Tapi investor membaca bagaimana antisipasi pemerintah dalam menanggulangi keadaan ini. Mereka bersiaga melarikan uangnya dengan menjual saham besar-besaran dari perusahaan-perusahaan di negara yang kebijakannya dinilai buruk dan tidak aman.

Tentu saja beresiko terjadi kemandegan ekonomi jika kebijakan diprediksi tidak dapat menjaga kontinuitas produktivitas bisnis. Seperti pelambatan produksi karena banyak pekerja sakit. Jika terjadi dalam waktu yang lama, pendapatan perusahaan bisa menurun. Apalagi kalau diperparah dengan penurunan daya beli masyarakat. Ambyar. Kabur investornya.

Penarikan modal jor-joran ini bukan hanya membuat perusahaan bangkrut, tapi negara bisa goyang. Bingung apa hubungannya? Negara mendapatkan pendapatan dari pajak dividen (keuntungan) yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham. Dan kegiatan pasar modal (sebutan lain untuk bursa saham) merupakan salah satu indikator perekonomian negara.

Sebagai ibu-ibu, saya melihat keadaan ini ibarat rumah yang pondasinya ringkih. Rumah bisa langsung roboh meski hanya dihantam gempa kekuatan sedang. Dan satu lagi, berat juga, ya, mengelola negara kalau transaksi pasar maya ini bisa sampai mengguncang perekonomian. Ketidakpastian membayangi. Seperti menyembah investor kita jadinya. Selalu mencari keridaan investor. Ya Allah, sebagai emak-emak saya prihatin dengan penguasa. Berat sekali bebanmu, Wahai Penguasa dalam sistem kapitalisme.

Saya sedih membayangkannya. Barangkali inilah yang menyebabkan penguasa terlihat lebih mementingkan investor dibandingkan rakyat biasa. Bisa jadi dalam hati, penguasa juga menjerit tak tega. Dana lebih diprioritaskan ke pasar maya dari pada buat rakyat di dunia nyata. Tapi apa hendak dikata, sistem kapitalisme telah menjadi kesepakatan dunia. Begitulah barangkali dalam pikiran mereka.

Sebagai Muslimah saya merasa terpanggil untuk memikirkan sesuatu yang saya anggap sebagai bahaya ini. Saya mencintai negeri ini. Saya juga mencintai rakyat, yang saya ini bagian di dalamnya. Saya teringat keharaman di pasar maya yang saya singgung di atas. Memang menurut pendapat ulama, banyak keharaman dalam transaksi di dunia saham ini. Tapi tidak saya kupas pembahasannya hari ini.

Nah, selanjutnya saya rasa kita perlu mengajak penguasa menilik kembali kebijakan-kebijakan ekonomi yang diterapkan saat ini. Barangkali ada keharaman-keharaman yang menginfiltrasi sistem perekonomian kita, sehingga seperti mencabut keberkahan dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara.

Saya teringat ada ustadz yang pernah membahas dua ayat dari surat yang berbeda di Al Qur’anul Karim ini. Pertama ayat ke 24 di surat Thaha

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

Artinya: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Kedua, ayat ke 96 surat Al A’raf

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

Ada isyarat dari Sang Khalik di sana. Kita perlu merujuk kembali kepada aturanNya, bila kita ingin terbebas dari kesempitan hidup. Allah tidak mungkin membiarkan kita hadir ke dunia tanpa tujuan dan tuntunan. Tak ada yang perlu ditakuti dari syariatNya. Allah yang Maha Penyayang tidak mungkin membuat ketetapan atau aturan yang zalim bagi makhlukNya.

Kitalah yang merugi jika mengabaikan syariatNya yang begitu paripurna. Padahal itulah rambu-rambu kita dalam menapaki kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara. Semoga Allah berkenan mencurahkan kembali keberkahan dengan taubat dan ketaatan kita, penduduk negeri. Tidak terkecuali para penguasanya. Allahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *