Ummu Afkar’s Diary: Nak, Kamu Harus Menjadi Agent of Change

Ummu Afkar’s Diary: Nak, Kamu Harus Menjadi Agent of Change

Iya Bunda, kalau begitu, kita harus lebih gencar dakwahnya biar Khilafah cepat tegak.” Masya Allah, berbunga-bunga hati ini mendengar jawabannya.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Nasywa beranjak dari mejanya dengan dahi berkerut, mulut monyong dua senti, mata menyipit kesal, sambil menggumamkan kalimat tak jelas. Begitulah gayanya yang persis saya ketika sedang gusar. Ia kesal, HP dibawa kakaknya, Naura ke rumah nenek. Padahal ini hari pertama kelas belajar melukis online-nya via WhatsApp grup. Tapi tak berapa lama, alhamdulillah tanpa suara bersahut-sahutan meninggi seperti biasanya, akhirnya mereka pun bisa menemukan jalan keluar. Saya lihat mereka membuat koneksi WhatsApp Web di laptop. Jadi Nasywa bisa mengikuti kelas online-nya lewat laptop, asal Naura keep connecting terus WhatsApp-nya selama di rumah nenek.

Lega rasanya melihat mereka berdua sudah tidak terlalu seperti ‘Tom and Jerry’. Barangkali karena saya juga hari ini sedang tidak swing dan nimbrung marah. Kalau tidak, kami sudah seperti orkestra. Naura pada saksofon, Nasywa di trombon dan saya tuba spesialist. Belum lagi harmonika, played by Afkar and Nabil. Ayah mereka agaknya harus terus belajar jadi dirigen yang sabar. Hahaha.

Well, ibu kelihatannya memang penentu. So,setiap perempuan harus berjuang untuk bisa tetap sabar dalam mengasuh dan mendidik anak. Sehingga anak bisa tumbuh dalam kondisi yang kondusif dan positif. Walaupun tak dipungkiri, kadang sabar itu sulit di momen penuh tekanan. Misalnya, sedang terburu-buru, kurang sehat atau lelah usai banyak beraktivitas. Segala ilmu tentang parenting yang pernah kita lahap pun mendadak terbang entah ke mana.

Agaknya kita perlu kecerdasan dalam mengelola emosi, harapan dan aktivitas. Mengapa saya katakan demikian? Karena dalam keadaan stressful, kemudian harapan kita tinggi, sementara everything is out of control, maka dapat dipastikan bubrah. Emosian. Kalau tidak teriak mengancam, ya main fisik. Cubit. Pukul. Yang lebih dahsyat lagi kalau ditambah dengan mengatai anak dengan kalimat-kalimat negatif yang menyakitkan hatinya.

Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita sempat bertaubat dan minta ampun kepada Allah jika pernah khilaf melakukannya, dan berjuang sekuat tenaga untuk jangan pernah melakukannya lagi.

Apa yang kita harapkan di masa depan kalau anak kita kemudian tak menyayangi kita, tak ada pun kita dalam doa-doanya. Dia merasa sendirian dan tertekan ketika berada di dekat kita. Sehingga dia lari menjauh. Sementara hari ini begitu banyak orang jahat yang siap mengeksploitasi mereka. Atau bisa pula, mereka jadi split personality. Di hadapan kita dia baik, tapi di belakang bermaksiat. Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir potensi menjadi monster ketika marah? Pertama, kita harus memperbarui dan mengokohkan iman kita kepada Allah. Keimanan lah yang menjadi bekal utama kita menjalani kehidupan. Keyakinan kita kepada Allah menjadikan kita menyadari diri sebagai Makhluk-Nya. Yang dihadirkan ke dunia dalam rangka mengemban misi menjadi khalifah di muka bumi, dengan menjalankan segala tuntunanNya. Berupa segenap perintah dan larangan dalam berbagai bidang kehidupan, sebagai bentuk peribadatan kepada Allah. Dan sebagai Muslim, kita seharusnya konsisten dalam ketaatan. Mengapa? Karena kita tau dan yakin kelak akan mati, kemudian dibangkitkan kembali oleh Allah. Dan kemudian dimintakan pertanggungjawaban atas apa-apa yang kita perbuat selama hidup di dunia. Sampai di sini, sudah terbayang bukan? Kalau seorang Muslim itu, harusnya adalah pribadi yang istiqamah melakukan kebaikan. Karena menjalankan perintah Rabbnya, dan ia akan ditanyai tentang itu.

Kemudian yang kedua, kita harus terus mengisi diri dengan ilmu agama. Kita berkomitmen mewajibkan diri hadir dalam majelis-majelis ilmu. Selain untuk menguatkan keimanan, juga untuk mengetahui berbagai perintah dan larangan Allah terkait peran kita sebagai ibu. Tapi tidak cukup hanya mempelajari bagaimana cara mengajarkan shalat, puasa, menutup aurat dan adab kepada anak.

Tapi kita juga harus mempunyai pemahaman, sistem apa yang saat ini diterapkan atas kita. Berikut paham-paham keliru apa saja yang saat ini dijajakan ke tengah-tengah kehidupan kita. Yang membius anak-anak kita, sehingga sulit untuk diberikan pemahaman yang benar. Kemudian juga kita harus tau bahwa Islam memiliki aturan yang lengkap yang bisa menuntaskan segala persoalan yang ada hari ini. Sehingga kita bisa merasakan sedihnya ketika hari ini Islam tidak diterapkan untuk mengatur kehidupan. Padahal begitu banyak kemungkaran yang tidak dapat kita, individu dan keluarga, tolak. Kecuali negara yang membentenginya.

Saya pernah berkata begini kepada Nasywa. “Nak, sebenarnya semua orangtua itu always ingin lihat anaknya bahagia. Berharap sekali dapat memenuhi semua keinginan anaknya. Sehingga anaknya bisa terus tersenyum ceria.” Sambil tertawa kecil Nasywa berkata, “Iya, kalau anaknya tidak pernah mengungkapkan keinginannya”. “Tidak Nak, bukan begitu maksud Bunda”, jawab saya. “Seandainyalah yang kamu inginkan itu seperti ini. Bunda, aku ingin bersedekah tas untuk kawanku yang tasnya sudah koyak di mana-mana. Atau bunda, aku ingin memperbaiki bacaan al qur’anku karena malu sama teman-teman yang sudah pintar-pintar membaca al qur’an. Atau bunda, ajarkan aku bahasa Arab, aku ingin bisa memahami al qur’an. Atau bunda, aku ingin menikah muda, kira-kira apa lagi yang perlu aku persiapkan untuk itu? Mungkin kita tidak akan sering berselisih paham, Nak.” Demikian jelas saya.

Nasywa pun tertawa terbahak. “Begitulah pikiran ibu-ibu ya Bunda?” Lalu saya jawab begini, “Iya. Tak sama dengan pikiranmu ya? Beginilah ketika kita hidup bukan dalam sistem Islam, Nak. Kapitalisme mendidik kita untuk sibuk mencari kesenangan diri. Kesenangan dunia. Karena memang para kapitalis itu, mereguk untung dari perilaku boros kita. Sementara Bunda dan banyak orangtua lainnya, terpikir terus kehidupan setelah mati. Jika kita hidup diatur dengan Islam Nak, pasti generasi kalian itu tidak kepikiran buat tiktokan, make up-an, k pop-an, drakor-an, dan fashion-an. Semua berpikir tentang amal shalih. Karena negara memang mensuasanakan seperti itu.

Sambil tersenyum, Nasywa akhirnya memahami maksud pembicaraan saya. “Iya Bunda, kalau begitu, kita harus lebih gencar dakwahnya biar Khilafah cepat tegak.” Masya Allah, berbunga-bunga hati ini mendengar jawabannya. Berdoa semoga Allah mudahkan ia untuk berdakwah, minimal ke teman-temannya dan adik-adiknya. Agar Allah persiapkan mereka untuk mengambil peran mulia menjadi pengurus umat ketika Khilafah tegak.

Jadi, lebih kurang seperti percakapan tadi lah upaya kita yang ketiga. Yakni terus membuka komunikasi dengan anak, mencoba memahami mereka, sembari menyampaikan pemahaman yang benar. Bahkan jika waktunya sudah tepat, yaitu ketika baligh, anak diajak juga untuk mengkaji Islam seperti kita. Insya Allah inilah bekal terbaik yang kita wariskan untuk anak-anak kita.

Dengan pemahaman Islam yang benar, anak akan memiliki ini pedoman dalam menilai baik dan buruk. Sehingga ia akan menyesuaikan segala perbuatannya menurut apa yang Allah ridha. Dan dengan izin Allah, dia pun akan tumbuh menjadi agent of change yang mengajak manusia kepada Islam.

Masya Allah tabarakallah. Adakah yang lebih kita inginkan dari ini, Bunda?[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *