Ummu Afkar’s Diary: Perempuan Butuh Islam

Dari mulai kelelahan fisik yang luar biasa akibat jam kerja yang panjang. Sehingga menimbulkan ketidakstabilan emosional, yang kerap memicu konflik rumah tangga. Dan berakhir dengan perceraian atau child abuse.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Saya pernah beranggapan perempuan bekerja itu cenderung abai terhadap keluarganya. Ternyata tidak. Masih ada perempuan-perempuan istimewa, yang di tengah beratnya kehidupan, mereka tetap berusaha memprioritaskan keluarga. Mereka ada dari kalangan bidan, perawat dan dokter.

Luar biasa bertemu dengan mereka. Ada yang sedari kecil begitu intens mendidik anak-anaknya hingga berhasil menjadi dokter. Ada yang begitu telaten, sembari bekerja juga mengurusi rumah dan menunaikan peran sebagai ibu tanpa asisten. Ada pula yang berjibaku dengan tugas jaga di rumah sakit, berorganisasi, tapi masih bisa meluangkan waktu membawa anak-anak mengasah minat dan bakatnya, refreshing bersama keluarga, memasakkan makanan kesukaan keluarga dan menerima pesanan kue. Wow. Masya Allah.

Rata-rata perempuan hebat ini memiliki suami yang sabar dan bersedia turut berbagi tugas. Walaupun tidak semua bisa terbagi sempurna. Karena memang multitasking itu sepertinya sudah fitrah perempuan, yang cenderung antisipatif. Barangkali ini karena sifat penyayang yang diberikan lebih oleh Allah pada diri perempuan.

Akan tetapi, hari ini kita juga mendapati realita perempuan-perempuan yang sudah tercabut fitrahnya karena kondisi. Ada ibu yang tega membunuh anak kandungnya hanya karena stress belajar daring. Ada pula ibu yang membunuh tiga anaknya, serta melakukan upaya bunuh diri akibat tekanan ekonomi. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Laa haula walaa quwwata illa billah. Speechless.

Tentu saja ini tak lepas dari lemahnya kesadaran dirinya akan hubungan dengan penciptanya. Di samping juga faktor tekanan sistem ekonomi sekuler, yakni kapitalisme, yang menjadikan kehidupan serba mahal. Harga kebutuhan pokok jarang pernah turun. Listrik, gas dan BBM kerap naik tanpa permisi. Kesehatan dan pendidikan tidak benar-benar gratis. Tetap saja ada biaya yang harus kita keluarkan untuk mengaksesnya secara layak. Hari ini, pepatah “uang bukan segalanya” terasa tak lagi bermakna.

Bagi perempuan bekerja yang lumayan dari segi ekonomi, bukan tidak ada tantangan. Kehidupan sekuler yang menolak agama ikut campur dalam mengatur kehidupan ini, telah membuat bahaya mengintai perempuan bekerja.

Dari mulai kelelahan fisik yang luar biasa akibat jam kerja yang panjang. Sehingga menimbulkan ketidakstabilan emosional, yang kerap memicu konflik rumah tangga. Dan berakhir dengan perceraian atau child abuse.

Kemudian, perempuan bekerja juga rentan terjerumus perselingkuhan yang berujung kepada perzinahan, akibat interaksi laki-laki dan perempuan ketika bekerja tidak diatur dengan tata aturan pergaulan yang benar. Dan muaranya lagi-lagi perceraian. Yang juga berdampak pada sosial ekonomi dan ketahanan generasi.

Perempuan bekerja hari ini juga rentan terperosok dalam dakwaan korupsi. Tidak sedikit perempuan yang ikut mendekam di bui. Kadangkala benar ia tergoda oleh hijaunya rupiah. Tapi tak jarang pula terlanjur terjebak dalam pusaran pengkhianatan pelaku demokrasi, dan terpaksa seorang diri menanggung kepahitan di balik dinginnya dinding berjeruji.

Dan masih banyak lagi permasalahan yang timbul akibat perempuan tidak diayomi dengan aturan yang benar. Tentu saja benar salah di sini haruslah menggunakan standar yang benar, yang bukan dari sisi manusia. Tetapi, dari Penciptanya. Atau bahasa umumnya, aturan agama.

Oleh karena Islam saja yang memiliki aturan yang lengkap dalam berbagai sendi kehidupan. Maka sudah tentu, Islam lah yang paling tepat dipakai sebagai standar untuk menilai benar salah.

Maka kehidupan terindah perempuan adalah ketika dia hidup di dalam naungan penguasa yang menerapkan Islam dalam seluruh sendi kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ada yang bertanggung jawab mendidiknya dengan aqidah Islam yang kokoh. Sehingga menjadikannya sadar betul bahwa dia adalah makhluk ciptaan sang Khalik. Hidup di dunia dengan petunjuk atau rambu-rambu dari Sang Khalik, yang akan memandunya agar selamat di dunia dan ketika pulang kampung nanti. Kampung akhirat, di mana amal perbuatan kita akan ditanya. Apakah konsisten dalam ketaatan, ataukah senantiasa mengabaikan aturan dari Allah.

Di samping juga Islam akan memastikan perempuan tidak menjadi tulang punggung yang memanggul beban ekonomi. Perempuan bekerja dalam Islam adalah dengan keridhaannya. Apakah untuk mengabdikan ilmu maupun untuk beramal shalih. Tentu saja ini tanpa mengabaikan peran strategisnya sebagai ibu dari generasi. Yang dengan kepiawaiannya menata rumah tangga dan mendidik anak lah, maka negara memiliki aset yang produktif untuk pembangunan. Yakni, suami-suami bahagia dan anak-anak cerdas serta bertakwa, produk dari baiti jannati.

Masya Allah, betapa rindunya kita pada sekeping surga dunia ini. Yakinlah apa yang kita bicarakan bukan mimpi, namun realitas yang akan mewujud. Karena merupakan janji Allah dan bisyarah (kabar gembira) dari Rasulullah.

Mengenai waktunya, insya Allah pada saat yang tepat ketika Allah sudah ridha dengan kesungguhan kita belajar memahami Islam secara kaffah. Dan kita berdakwah bersama jamaah yang menyediakan diri untuk mencetak kader-kader dakwah.

Inilah cara yang dilakukan Rasulullah di Mekkah sejak diutus sebagai Rasul, hingga bisa tegaknya daulah Islam di Madinah Al Munawarah, yang merupakan cikal bakal kekhilafan Islam yang pernah berjaya berabad-abad lamanya sepeninggal Rasulullah.

Semoga dengan ini Allah Ridha, menegakkan kembali Khilafah Islamiyyah yang akan menerapkan Islam secara kaffah dan sekaligus dalam seluruh aspek kehidupan. Sehingga terayomilah kaum perempuan. Dan tercetaklah generasi-generasi tangguh penegak peradaban Islam nan gemilang. Insya Allah. Allahu Akbar.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *