Ummu Afkar’s Diary: Wahai Pemimpin Muhasabahlah!

Ummu Afkar’s Diary: Wahai Pemimpin Muhasabahlah!

Rasanya naif sekali, ini organisasi kita yang pimpin. Tapi giliran kinerja organisasi kita turun, yang kita kambing hitamkan bawahan kita sebagai biang keroknya. Padahal kita yang seharusnya berkaca.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Hari ini deadline mengumpulkan tugas diary. Sampai menit-menit terakhir, masih bingung topik mana yang akan ditulis. Hari demi hari fakta kebobrokan sistem buatan akal manusia dengan izin Allah berserakan di media. Tugas penulis ideologis adalah memungutinya satu per satu dan merangkainya menjadi sebuah tulisan yang akan membuka cakrawala berpikir umat dengan izin Allah.

Waktu cek berita di laman Kompas.com, saya pun terpana dengan headlineJokowi Marahi Menteri‘. Tapi sekelebat langsung ingat cerita sepupu suami waktu berlebaran ke rumahnya. Dia mengisahkan tentang atasannya dan pejabat-pejabat selevelnya yang kerap dimarahi atasan yang lebih tinggi. Tak jarang dalam rapat umum terlontar kata-kata pedas dan menusuk kalbu. Kebijakan sang atasan, setiap rapat sudah mulai, kursi-kursi yang kosong segera dikeluarkan. Walhasil pejabat-pejabat yang datang terlambat, terpaksa harus berdiri.

Sepupu suami saya yang cuma ajudan, alias orang kecil, menilai tidak selayaknya cara seperti itu digunakan untuk mendidik pejabat yang notabene sudah tua-tua. Walaupun banyak yang mengelu-elukan pejabat tinggi itu kinerjanya luar biasa. Tapi rupanya bawahannya banyak yang tidak respek dan terpaksa saja menuruti titahnya. Kelihatannya setelah lengser, dilihat pun tidak nanti oleh mereka yang pernah disakitinya. Bisa-bisa dapat doa jelek dari orang-orang yang merasa terzalimi dengan gaya kepemimpinan seperti itu.

Memang benar seorang pemimpin itu harus membina dan mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya. Tapi hendaklah pemimpin ingat, kepada peminta-minta yang notabene tidak ada kontribusinya untuk kita saja, Allah larang menghardiknya.

Apalagi bawahan kita yang sudah pasti, walau kecil, ada perannya untuk keberhasilan kerja kita. Maka lebih tidak pantas lagi untuk disakiti. Rasulullah SAW pun pernah bersabda, “Seorang Muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya“.

***

Seorang pemimpin, ketika mendapati kinerja organisasinya buruk, maka yang pertama harus dilakukan adalah introspeksi diri. Sebenarnya pemimpin harus malu jika bawahannya tidak becus bekerja. Bisa jadi sang pemimpin belum menjalankan tiga prinsip yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara berikut ini.

Pertama, ing ngarso sung tulodo. Pemimpin ketika di depan memberi teladan. Jangan sampai menepuk air didulang, terpercik muka sendiri. Memarahi bawahan di depan orang banyak, malah jadi membuka borok sendiri yang tak pernah memberi contoh seperti apa yang dinamakan kerja keras.

Kedua, ing madyo mangun karso. Ketika berada di tengah, pemimpin memberi semangat. Ucapan bernada mengancam itu bukan menyemangati, melainkan menekan. Harusnya pemimpin memberi apresiasi terlebih dahulu sebelum memberikan koreksi, agar bawahan semakin meningkat kinerjanya.

Ketiga, tut wuri handayani. Ketika berada di belakang, pemimpin mendukung stafnya. Bukan menyalahkan, menjatuhkan dan mempermalukannya di depan publik. Rasanya naif sekali, ini organisasi kita yang pimpin. Tapi giliran kinerja organisasi kita turun, yang kita kambing hitamkan bawahan kita sebagai biang keroknya. Padahal kita yang seharusnya berkaca. Barangkali kita belum menampakkan dukungan dalam bentuk apresiasi jika apa yang dilakukan benar. Dan bila salah, kita dorong serta bimbing untuk belajar dan memperbaiki kesalahannya.

Namun demikian, ketiga prinsip itu sulit diwujudkan ketika mentalitas kita juga tidak siap menjadi pemimpin. Sebagaimana Islam mensyaratkan pemimpin itu harus mampu, adil dan merdeka. Maka pemimpin haruslah memiliki kemampuan untuk memimpin. Setidaknya ia memiliki kecerdasan yang cukup, wawasan kenegaraan yang luas dan paham peta politik internasional. Kemudian pemimpin harus adil. Lawannya adil zhalim. Agar terhindar dari berbuat zalim, maka pemimpin harus berhukum dengan hukum Allah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 45.

Selanjutnya menjadi pemimpin itu haruslah orang yang merdeka dari tekanan atau pengaruh orang lain. Apalagi sampai bisa didikte dan patuh kepada orang asing. Bahkan di dalam Islam, pemimpin yang berada dalam tawanan asing bisa diberhentikan dan digantikan posisinya. Pemimpin dalam sistem kapitalisme yang kerap mendapat tekanan asing akan sulit untuk bersikap bijak terhadap bawahan maupun rakyatnya. Tekanan ini memicu stress dan depresi. Akibatnya, emosi menjadi tak terkendali. Kata-kata sulit dikontrol agar tetap santun dan makruf.

Apalagi ditambah dengan kegaduhan politik demokrasi. Pemilik modal penyokong dana pemilu tak ketinggalan menambah sakit kepala pemimpin hari ini. Di banyak negara demokrasi, para kapitalis menyetir segala kebijakan pemimpin yang telah mereka biayai. Mereka tidak mau memberi makan siang gratis.

Hanya dalam sistem Islam, Khilafah, pemimpin yang shalih menemukan habitatnya. Dia bisa berkhidmat secara serius untuk mengurusi urusan rakyat. Tidak digoda riswah, karena akan ditindak oleh negara. Tidak ada politik transaksional karena ada sistem pemilihan pemimpin dan tata cara pemerintahan yang khas di dalam Islam. Maka, pemimpin yang shalih seharusnya merindukan Khilafah. Setuju?[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *