Untuk Palestina, Siapa Saudara Siapa?

Seluruhnya ditujukan untuk melayani kepentingan negara-negara tersebut, dengan cara memelihara eksistensi negara Yahudi serta mewujudkan posisi negara Yahudi di kawasan Timur Tengah, yang mengungguli kedudukan negara-negara yang telah terlebih dahulu ada.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Kepala biro politik Hamas Palestina, Ismail Haniyeh menyurati Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo untuk meminta perhatian mengenai serangan Israel ke Masjid al-Aqsa. “Anda telah mengikuti bagaimana Masjid al-Aqsa yang diberkati dan alun-alunnya serta pria dan wanita pemberani yang membela al-Aqsa terkena penyerbuan, penodaan, penindasan, dan kebrutalan, belum lagi menutup masjid dan menolak akses jamaah Muslim ke sana,’’ tulis Ismail kepada Jokowi seperti dikirim kepada Anadolu Agency (12/5/2021) sebagaimana yang diberitakan republika.co.id pada 13/5/2021.

Haniyeh menyampaikan Israel telah menggusur dan mengambil alih pemukiman properti dan memaksakan pembagian Masjid al-Aqsa. Bahkan, langkah Israel itu dinilainya telah mengubah status quo dalam agresi dan metode kejahatan baru yang melintasi batas. Kejahatan ini menargetkan Kota Yerusalem yang diduduki dalam sejarah Islamnya. Hamas berharap Jokowi dan Umat Islam dapat berdiri bersama melawan agresi Israel pada akhir bulan suci Ramadan ini. Haniyeh mengatakan rakyat Palestina juga tidak akan berhenti untuk mempertahankan tanah dan kesucian Baitul Maqdis atas nama seluruh Umat Islam.

‘’Kami menulis surat ini kepada Yang Mulia pada hari-hari bulan solidaritas, kerja sama dan menjelang kemenangan ini, dengan berharap dan percaya bahwa umat Islam akan menjadi seperti satu struktur konkret untuk berdiri bersama Yerusalem dan kesucian”.

Sementara pada hari yang sama melalui akun Twitter-nya, Presiden Jokowi justru men-tweet tentang bantuan Indonesia untuk penanganan Covid-19 di India. “India mengalami lonjakan kasus Covid-19, dan sebagai sahabat dekat, Indonesia tak tinggal diam. Siang ini, Indonesia mengirim 200 unit oxygen concentrators, menyusul bantuan sebelumnya 1.400 tabung oxygen cylinders ke India. Teman sejati adalah teman yang hadir saat dibutuhkan”, demikian bunyi kicauannya.

Menteri Luar (Menlu) Negeri Retno LP Marsudi, saat melepas bantuan hibah Pemerintah RI Kepada India pada hari yang sama menyampaikan posisi tegas Indonesia bahwa tindakan Israel mengusir warga Palestina dari Syekh Jarrah, Yerussalem Timur dan menyerang warga sipil Palestina di Masjid al-Aqsa merupakan tindakan yang tidak dapat dibiarkan. Namun selain penyataan mengutuk tersebut tidak ada bantuan apapun yang dikirim Presiden Indonesia ke Palestina.

Pemimpin negara ini harus mengingat utang budi kepada Palestina. Adalah Seorang Mufti Palestina, Muhammad Amin Al Husaini salah satu tokoh yang disegani dan ikut andil dalam pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia. Ia tidak hanya mengakui kemerdekaan Indonesia pertama kali, namun ia juga safari ke berbagai negara Timur Tengah untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Selain Syeikh Amin Al Husaini, langkah serupa juga dilakukan Muhammad Taher Ali, saudagar kaya Palestina dan juga seorang jurnalis. Taher Ali mengambil seluruh kekayaannya yang di simpan di bank dan disedekahkan untuk perjuangan rakyat Indonesia saat itu.

Miris dan menggelikan, Presiden Muslim terbesar dunia, memberikan dukungan riil kepada teman sejatinya, India yang telah membantai umat Islam di sepanjang sejarahnya, termasuk pembantaian paling mematikan pada tahun 2020. Sementara India juga melakukan blokade terhadap Kashmir, kantung Muslim India dengan mengurung sekitar 8 juta Muslim disana.

Pengkritik Pemerintah Nasionalis Perdana Menteri India, Narendra Modi mengatakan, ini merupakan langkah lain dalam usaha kampanye mengubah 180 juta Muslim di India menjadi warga negara kelas dua atau bahkan membuat mereka tak memiliki kewarganegaraan. Padahal, India tercatat sebagai negara kedua terbesar populasi umat muslimnya (republika.co.id 28/2/2020).

Sumantra Bose menulis di The Conversation mengatakan jika Benyamin Netanyahu menerima Narendra Modi ke Israel tahun 2017 dengan kata-kata ini: “Perdana Menteri Modi, kami telah lama menunggumu, hampir 70 tahun… kami melihatmu sebagai jiwa yang baik.

Kedua perdana menteri tersebut sama-sama berjuang di pemilu musim semi 2019, dan membagi rapor yang baik serta memanggil satu sama lain di Twitter sebagai “temanku Narendra” dan “temanku Bibi”. Hubungannya lebih dari kedekatan personal, atau bahkan dari peran penting kompleks industri-militer Israel yang memberikan kebutuhan bagi India. Hubungannya mengakar pada rasa kagum generasi nasionalis Hindu untuk Zionisme dan produknya, Israel, yang ingin mereka tumbuhkan di India.

Sementara Arab Saudi yang mengaku mendukung Palestina dan mengutuk serangan Israel, nyatanya tetap memfasilitasi hubungan intim antara Israel-UEA. Arab Saudi mengizinkan wilayah udaranya dilintasi penerbangan antara kedua negara tersebut. Hal tersebut dilakukan Saudi sejak 2018 dengan mengizinkan Air India untuk terbang di atas negara itu ke Tel Aviv. Keputusan itu, yang menurut otoritas penerbangan kerajaan datang atas permintaan UEA, menyusul kesepakatan bersejarah antara Abu Dhabi dan Israel untuk menormalisasi hubungan mereka beberapa waktu silam.

Sementara mengutuk Israel, Arab Saudi justru menjadi pemimpin koalisi melancarkan operasi militer dengan melancarkan serangan udara untuk memulihkan bekas pemerintah Yaman. Amerika Serikat memberikan dukungan intelijen dan logistik untuk serangan tersebut. Menurut PBB, dari Maret hingga Desember 2017, antara 8.670-13.600 orang terbunuh di Yaman, termasuk lebih dari 5.200 warga sipil, serta perkiraan lebih dari 50.000 orang tewas akibat kelaparan yang berkepanjangan akibat perang.

Lain lagi Presiden Turki Tayyib Erdogan, yang langsung menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin membahas ketegangan di Gaza dan Yerussalem. Saat ini, Ankara tengah mengupayakan aksi internasional melawan Israel. Menurut rilis kantor Kepresidenan Turki, Erdogan telah mengatakan kepada Putin bahwa masyarakat internasional perlu memberi teguran kepada Israel. Hanya saja apakah benar berharap pada Rusia?

Di sinilah urgensitasnya mempelajari sejarah. Rusia memiliki kontribusi yang tidak sedikit dalam menghancurkan akidah rakyat Daulah Khilafah Utsmaniyah dengan mengirimkan biarawati-biarawatinya memenuhi Syam dalam gerakan misionaris pada abad ke 17 M. Ketika perang dunia I berakhir dan negara Khilafah telah diruntuhkan, muncul negara-negara pemenang yaitu LBB (Liga Bangsa Bangsa) yang merupakan cikal bakal PBB (Persatuan Bangsa Bangsa). LBB menetapkan pemberian mandat kepada Inggris atas Palestina tahun 1922 M. Isinya antara lain Inggris akan merealisasikan perjanjian Balfour.

Inggris mulai mengambil langkah untuk melempangkan jalan bagi Yahudi untuk memasuki Palestina dari berbagai penjuru dunia. Sebagian besar wilayah Palestina diserahkan pada Yahudi dan mendirikan sebuah negara bagi mereka. Inggris merancang sebuah skenario kasat mata bagi mereka, yaitu mewujudkan perang yang direkayasa, antara para penguasa Arab yang juga menjadi kaki tangan mereka-saat itu ada 7 penguasa-dengan Yahudi.

Begitulah manfaat dari persekutuan dari para kaki tangan Inggris yang bertujuan agar setelah peristiwa itu yahudi dapat mengatakan dirinya berhasil mengalahkan pasukan gabungan tujuh negara Arab. Mereka mengklaim perang tersebut sebagai perang kemerdekaan. Mereka mendeklarasikan sebuah negara pada tanggal 15 Mei 1948. Segera setelah itu mereka mencari pengakuan negara lain. Negara-negara besar saat itu berlomba memberi pengakuan. Amerika, Inggris, Prancis dan tentu saja Rusia.

Lalu negara-negara kafir penjajah yang secara de facto bercokol di wilayah tersebut terutama Inggris dan Amerika, bersama-sama merumuskan resolusi untuk masalah Palestina, yang kemudian hari mereka namakan “Krisis Timur Tengah”. Seluruhnya ditujukan untuk melayani kepentingan negara-negara tersebut, dengan cara memelihara eksistensi negara Yahudi serta mewujudkan posisi negara Yahudi tersebut di kawasan Timur Tengah, yang mengungguli kedudukan negara-negara yang telah terlebih dahulu ada.

Demikianlah riwayat pertemanan negara-negara dalam merespons krisis Palestina akibat penjajahan Israel. Memang pada dasarnya, Allah SWT memerintahkan umat-Nya berbuat baik dan berlaku adil meski terhadap orang kafir dengan syarat selama orang kafir tersebut tidak memerangi kaum Muslimin. Silahkan masing-masing pembaca me-review pertemanan negara-negara Muslim di atas dengan negara-negara kafir yang terlibat dalam menghancurkan kaum Muslim.

Selain itu, Islam dalam persahabatan dengan orang kafir adalah tidak menjadikan mereka orang terdekat yang dicintai dan tidak menjadikan mereka orang kepercayaan yang melebihi Mukmin. Rasul juga berwasiat agar umatnya memprioritaskan orang beriman untuk dijadikan teman dekat dan kepercayaan serta mewasiatkan agar kriteria keimanan dan ketakwaan harus selalu dijadikan standar menjalani kehidupan.

Diriwayatkan dari Abu Sai’d dari Nabi bahwa Beliau bersabda, “Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ada yang memakan ma kananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR Tirmizi dan Abu Daud). Lebih jauh lagi, Allah mengingatkan hamba-Nya memilih orang yang patut atau tidak patut untuk dicintai.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *