Urgensitas Sistem Jaminan Halal

Urgensitas Sistem Jaminan Halal

Kepastian halal suatu produk bagi seorang Muslim merupakan bentuk ketaatan pada Allah SWT. Tentu harus jeli dan kritis melihat apa akar masalah dari ringkihnya sistem jaminan halal yang ada sekarang.


Oleh: Dien Kamilatunnisa

POJOKOPINI.COM — Kehadiran Undang-Undang Cipta Kerja atau Omnibus law menuai polemik. Pasalnya, ada beberapa poin yang dikhawatirkan menghilangkan jaminan kepastian halal suatu produk. Salah satunya adalah Pasal 48 UU Ciptaker mengubah beberapa ketentuan UU 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Berbagai tokoh pun menunjukkan penolakannya pada regulasi tersebut. Salah satunya datang dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj. Beliau menyoroti kelonggaran sertifikasi halal dari aspek syariah sebagai dampak dari pemberlakuan UU Cipta Kerja atau Omnibus Law. Ia mencontohkan UU Cipta Kerja mengabaikan syarat auditor halal harus sarjana syariah. Auditor halal bisa berasal dari sarjana nonsyariah sehingga kekuatan sertifikasi halal secara keagamaan menjadi berkurang (pikiran-rakyat, 9/10/2020).

Selain itu, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Lukmanul Hakim menilai, Undang-Undang (UU) Cipta Kerja telah merusak esensi dari sertifikasi halal. Sebab, menurut dia, UU Cipta kerja lebih fokus pada perlindungan produsen, bukan konsumen. Lukman mengatakan, hal itu terlihat dari beberapa pasal yang ada di UU Cipta Kerja, salah satunya pasal mengenai mengenai auditor halal. Menurut dia, UU Cipta Kerja yang mengubah Pasal 10 Undang-Undang Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, telah menghilangkan ketentuan adanya sertifikasi auditor halal dari MUI (tribunnews.com, 21/10/2020).

Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Otomatis kepastian halal suatu produk sangat krusial. Ketentuan mengenai makanan halal termuat dengan jelas di Al Quran ayat 168: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu”. Sementara itu hadist Nabi memuat : “Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram kecuali neraka lebih utama untuknya” (HR. At Tirmidzi.

Oleh karena itu, kepastian halal suatu produk bagi seorang Muslim merupakan bentuk ketaatan pada Allah SWT. Tentu harus jeli dan kritis melihat apa akar masalah dari ringkihnya sistem jaminan halal yang ada sekarang. Hal ini diakibatkan karena hukum yang dipakai saat ini bukanlah hukum yang berlandaskan wahyu Allah sehingga sangat rentan untuk berubah-ubah sesuai kepentingan sekelompok pihak.

Padahal, sejak Nabi Muhammad Saw diutus sebagai rasul, umat Islam diperintahkan untuk menjadikan aturan Allah swt sebagai landasan hukum syariat, termasuk dalam menentukan halal suatu produk. Keterlibatan negara dalam jaminan halal ketika zaman rasulullah saw termuat dalam buku yang ditulis Lesley Stone dalam A Contextual Introduction to Islamic Food Restrictions.

Menurut Lesley, catatan hadis menun jukkan Muhammad Saw menyembelih hewan dengan terlebih dulu menyebut nama Allah SWT. Ini merupakan bentuk dari upaya memberikan jaminan halal terhadap daging yang akan dikonsumsi. Selain itu, salah seorang peneliti penyalahgunaan alkohol University of Arizona, Siraj Islam Mufti, dalam artikelnya “Alcoholism and Islam” menyatakan bahwa penghentian kebiasaan meminum alkohol secara tegas dilakukan selama tiga tahun sejak Rasulullah berada di Madinah pada 622 atau 623 M (republika.co.id, 10/08/2014).

Rasulullah Saw tentunya hadir sebagai pemimpin umat Islam saat itu. Hal itu memberikan gambaran pada kita bahwa pemimpin negara harus terlibat memberikan jaminan halal pada masyarakat yang sesuai syariat. Sehingga terjamin rasa aman ketika mengonsumsi suatu produk. Dengan hal ini diharapkan keberkahan akan datang ke suatu negeri karena ketaatan tidak hanya diamalkan pada tahap individu, tapi juga pada tahap masyarakat dan negara. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *