Vaksin Gratis yang Merata bukan Ilusi

Vaksin Gratis yang Merata bukan Ilusi

Terlihat sekali pemerataan jaminan kesehatan rakyat agaknya jauh dari kata sempurna. Padahal seharusnya setiap masyarakat mendapatkan hak yang sama, apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini dimana banyak masyarakat yang terpukul keadaan ekonominya.


Oleh: Nurul Adha Putri

POJOKOPINI.COM — Diinformasikan bahwa Vaksin Covid-19 tidak gratis untuk seluruh masyarakat, melainkan akan ada pembagian, yaitu yang gratis hanya kepada mereka yang terdaftar di BPJS Kesehatan dan hal ini akan diurus oleh Menkes sendiri sedangkan yang vaksinasi berbayar akan diurus oleh BUMN (kumparan.com, 19/10/2020).

Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Erick Thohir menjelaskan hal ini dikarenakan terbatasnya kemampuan anggaran negara untuk melakukan vaksinasi gratis secara keseluruhan (wartaekonomi.co.id, 28/8/2020).

Vaksinasi adalah hal yang sangat dibutuhkan di seluruh dunia, begitu pula Indonesia, mengingat angka korban positif semakin meningkat hingga ribuan perharinya. Kebijakan ini sekilas terlihat baik-baik saja. Namun jika kita menilik lebih dalam, ada banyak masyarakat yang juga tergolong kurang mampu namun tidak terdaftar di BPJS. Jika mereka yang tidak terdaftar juga harus membayar, maka dengan apa mereka mendapatkan vaksin tersebut, apakah mereka akan membiarkan covid-19 merenggut nyawa rakyat tersebut?

Terlihat sekali pemerataan jaminan kesehatan rakyat agaknya jauh dari kata sempurna. Padahal seharusnya setiap masyarakat mendapatkan hak yang sama, apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini dimana banyak masyarakat yang terpukul keadaan ekonominya.

Adapun mengenai terbatasnya anggaran negara, dalam situasi genting seperti ini seharusnya penguasa mengutamakan keselamatan rakyatnya lebih dari apapun. Jika penguasa tidak bekerja untuk melayani rakyatnya secara menyeluruh lalu sebenarnya penguasa hari ini sedang bekerja untuk siapa?

Di sisi lain kita dapati proyek pembangunan ibukota baru yang menelan angka yang fantastis yang tak dihentikan. Apakah penguasa mengutamakan dan menyayangi rakyatnya?

Jika benar-benar ingin menjamin keselamatan rakyat maka segala hal harus dilakukan termasuk mengontrol prioritas masuk dan keluarnya anggaran, dan mengutamakan alokasi anggaran kepada penanggulangan covid-19 yang telah nyata merenggut banyak nyawa.

Berharap pada kapitalisme untuk benar-benar mengutamakan rakyat dibandingkan kepentingan lainnya, memang hanyalah ilusi, karena sejatinya kapitalisme yang berlandaskan materi menjadikan manfaat sebagai tolak ukur dalam bertindak.

Maka tidak akan mungkin merelakan peluang mendapatkan materi sekecil apapun, apalagi jika hal itu bersebrangan dengan kepentingan yang ingin diperolehnya. Termasuk jika kepentingan rakyat bersebrangan dengan kepentingan dirinya, maka dapat dipastikan kepentingan rakyat akan dipinggirkan.

Apalagi yang menjadi asas dari kapitalisme ini adalah sekularisme, segala kebijakan yang dibuat tidak berdasarkan kepada Islam. Mereka yakin bahwa dengan membuat aturan sediri dapat mewujudkan kesehahteraan. Maka tidak mengherankan penguasa dalam sistem kapitalisme sama sekali tidak takut akan konsekuensi yang akan didapatnya di hari akhir kelak. Penguasa di sistem kapitalisme tidak akan dapat mewujudkan keadilan yang hakiki, karena keadilan hanya dapat ditegakkan oleh sistem Islam melalui Khilafah Islamiyahnya.

Khilafah Islamiyah berlandaskan kepada syariat Islam yang merupakan aturan yang langsung didesain oleh Sang Khaliq, maka sudah pasti aturan dariNya tidak akan membawa ciptaanNya kepada kerusakan. Khilafah Islamiyah akan melahirkan penguasa yang takut kepada Allah sehingga dalam mengurus dan mengutamakan kepentingan rakyat, juga akan mewujudkan keadilan dengan meminggirkan kepentingan lainnya. Termasuk dalam hal penyediaan vaksin yang merupakan hal yang sangat penting untuk saat ini. Sistem Islam melalui Khilafah Islamiyahnya menjamin vaksin tersebut didapatkan bukan cuma orang yang fakir saja tapi menjamin untuk seluruh masyarakatnya.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian para penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum mendorong kalian bersikap tidak adil. Bersikap adillah karena adil itu lebih mendekatkan pada ketakwaan. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan.” (TQS al-Maidah [5]: 8)[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *