Virus Corona: Mengurai Kerusakan Kapitalisme

Virus Corona: Mengurai Kerusakan Kapitalisme

Dari pandemi Corona ini, semakin tampak jelas bagi kita, wajah asli dan kerusakan dari sistem kapitalisme yang selama ini mencengkeram umat melalui penerapannya dalam negara.


Oleh: Nur Purnama Indah Puspasari, SE (Pegiat literasi)

POJOKOPINI.COM — Hingga kini dunia masih lumpuh. Tak lagi biasa. Tak lagi menepuk dada jumawa, maupun tertawa ceria. Semua berjibaku dengan satu makhluk kecil tak kasat mata. Siapa kini yang tak mengenalnya? Corona Virus lah sang empunya nama. Kemunculannya di awal banyak dipandang sebelah mata. Termasuk di negeri kaya yang dijuluki zamrud khatulistiwa. Namun kini air mata, keluh kesah, sumpah serapah, doa sepenuh jiwa, bahkan ujaran ‘terserah aja’, memenuhi ruang sang paru-paru dunia.

Air mata paramedis, petugas kebersihan Rumah Sakit, sampai pada petugas pengurus jenazah pasien terinfeksi, kini sudah tak terbendung lagi. Mereka lelah jiwa dan raga. Bergelut dengan dua pilihan yang nyata. Selamat atau kehilangan nyawa.

Lalu hari ini pemandangan miris tak pelak mengaduk-ngaduk rasa hati. Setelah berbagai seruan ‘di rumah aja’ alias ‘stay at home‘, dikumandangkan. Kini, tak sedikit manusia berjubel di stasiun, bandara, pasar maupun di mall, untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan diri. Bahkan dengan tak mengindahkan protokol kesehatan. Membuat mereka yang sudah dengan sadar berusaha bertahan di rumah saja, terperangah berjamaah.

Di sisi lain, tak sedikit pula yang sudah tak mampu membendung kebutuhan jasmani yang terus meronta. Memaksa diri menerjang bahaya dan segala aturan yang ada. Demi memenuhi rintihan perut yang kian bernyanyi lirih. Karena berdiam di rumah tanpa bantuan yang menghampiri.

Berbagai teori pun tak kalah bergaung di sana-sini. Mulai dari konspirasi sampai Herd Immunity. Kaum intelektual pun sejatinya tak berdiam diri. Mereka berupaya memberi solusi. Namun apa daya, suara mereka hanya dianggap angin semilir yang berlalu di telinga para pemilik kewenangan negeri.

Lalu bagaimana para penguasa negeri mengayomi rakyat di tengah pandemi ini? Kebijakan yang digelontorkan cenderung berubah-ubah. Pusat dan daerah tampak tak satu suara. Sejak awal penguasa sudah tampak santai menanggapi. Dengan dalih untuk menghindari kecemasan rakyat. Bahkan justru membuka akses seluas-luasnya bagi para wisatawan asing. Demi kepentingan ekonomi dari sektor pariwisata.

Lalu ketika ditemukan warga yang terinfeksi, barulah kebijakan berubah haluan. Penguasa mengajak rakyat melawan si makhluk kecil bernama Corona. Berbagai aturan diberlakukan, mulai dari PSBB, work from house bagi para pekerja, school from house bagi para siswa sekolah, hingga pelarangan mudik.

Namun hari ini, di tengah kurva penyebaran Corona Virus yang masih naik, bahkan belum nampak melandai, penguasa kembali putar haluan. PSBB mulai dilonggarkan, kebijakan transportasi dan mudik pun berubah, hingga muncul himbauan baru berupa narasi berdamai dengan Corona. Dengan mengutip pernyataan dari WHO, bahwa ada potensi virus ini tak akan segera menghilang dan akan tetap ada di tengah masyarakat. (cnbcindonesia, 17/05/2020)

Lebih lanjut, penguasa meminta masyarakat untuk tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan hingga ditemukannya vaksin yang efektif. Meski kemudian pernyataan tersebut dikoreksi. Dinyatakan kembali bahwa berdamai dengan virus Corona (Covid 19) ini artinya berada dalam keadaan “new normal”. Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. (kompas.com, 19/05/2020)

Jika kita tilik lebih dalam, pernyataan ini menjadi sejalan dengan konsep new life yang dinarasikan oleh PBB. Seperti yang tercantum dalam artikel yang dirilis situs resmi PBB bertajuk A new normal: UN lays out roadmap to lift economies and save jobs after Covid-19. (https://www.un.org, 27/04/2020)

Hal ini menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat, bahwa new life ini sejatinya adalah upaya untuk menerapkan Herd Immunity. (kompas.com, 19/05/2020) Karena dari pengertian new life sendiri bisa disimpulkan bahwa akan terjadi aktivitas normal dalam upaya membangun kembali ekonomi negara dari kondisi Covid 19. Maka tentu saja dalam upaya tersebut, dibutuhkan kontribusi rakyat dalam setiap prosesnya. Rakyat akan masuk dalam kancah perekonomian dengan aktivitas normal.

Pun seperti kita ketahui, negeri zamrud khatulistiwa ini adalah bagian dari PBB. Di mana tak dipungkiri, bahwa PBB adalah perpanjangan tangan dari negara adidaya pengusung Kapitalisme global. Dalam Kapitalisme, yang utama adalah kepentingan para pemodal. Meski harus mengorbankan aspek kemanusiaan, itu sah saja.

Sejatinya, ini semakin membuka mata dan pemikiran kita. Dalam kondisi normal pun, rakyat yang selalu dikorbankan.

Para Kapitalis selalu berusaha meraih keuntungan sebesar-besarnya di atas derita rakyat, di setiap sektor kehidupan. Bahkan dalam kondisi pandemi pun, tak merubah apapun. Karena memang demikianlah karakter dari sistem Kapitalis. Negara yang berada dalam cengkraman Kapitalis global pun tak memiliki bargaining position dan harus tunduk dengan aturannya, hingga kemudian negara bertindak hanya sebagai pemberi fasilitas dari keberlangsungan para elite Kapitalis. Kepentingan pemilik modal (Kapitalis) berada jauh di atas kepentingan rakyat. Sungguh zalim!

Berbeda dengan Sistem Islam

Sistem Kapitalis ini sungguh jauh berbeda dengan sistem Islam. Karena sistem Islam tegak di atas paradigma ketakwaan pada Allah sebagai Pencipta dan Pemilik alam semesta. Dalam Islam, nyawa manusia sangatlah berharga. Maka aspek kemanusiaan harus diperhatikan. Amanah yang diemban pemimpin rakyat pun memiliki pertanggungjawaban langsung, kelak di hadapan Allah Subhanahuwata’ala. Artinya tanggung jawabnya tidak hanya di dunia, namun sampai ke akhirat.

Negara dengan pemimpinnya, harus menjadi pengurus dan penjaga rakyat. Menjamin keberlangsungan hidup dan kesejahteraan mereka. Maka demikianlah hal tersebut dapat kita temukan pada penerapan sistem Islam dahulu. Di mana kebutuhan rakyat mulai dari kebutuhan dasar, keamanan dan kehormatannya, benar-benar dijaga oleh negara.

Dari pandemi Corona ini, semakin tampak jelas bagi kita, wajah asli dan kerusakan dari sistem kapitalisme yang selama ini mencengkeram umat melalui penerapannya dalam negara. Maka sudah saatnya kita melepaskan diri, campakkan sistem yang sudah jelas kerusakan dan kezalimannya. Untuk selanjutnya kita terapkan kembali sistem Islam, tidak hanya untuk negeri zamrud khatulistiwa, namun juga untuk seluruh bumi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *