VoC Covid-19 dan Tongkat Nabi Musa

Proses laut terbelah itu menjadi bahan riset hingga sekarang. Bruce Parker (2012) seorang pakar kelautan menjelaskan proses laut terbelah itu dengan teori pasang-surut air. Napoleon Bonaparte pun tak ketinggalan menapaktilasi jejak Nabi Musa. Ia memeriksa kanal-kanal yang dibangun Fir`aun, termasuk ke Suez. Mereka menemukan penjelasan ilmiah namun pada saat yang sama manusia sekuler sombong menafikan masalah iman.


Oleh: Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Hampir setiap hari saya menyimak berita tentang pandemi yang semakin ngeri. Dalam beberapa bulan terakhir, varian virus Corona baru telah muncul di seluruh dunia. Kementerian Kesehatan telah menemukan 54 kasus Covid-19 yang tergolong Variant of Concern (VoC) di Indonesia. Beberapa VoC yang dimaksud adalah B117 dari Inggris, B1351 dari Afrika Selatan, dan B1617 dari India. Ini belum termasuk virus Tangue dan virus Eek dari Jepang.

Laman cnbcindonesia.com pada 30/5/2021 melaporkan bahwa Variant of Concern (Voc) adalah varian yang memiliki mutasi yang bisa mempengaruhi kemampuan penularan, kepekaan alat tes, tingkat keparahan gejala, hingga kemampuan virus menghindar dari sistem kekebalan tubuh.

Realitas ini membuat kita merinding ngeri, namun ternyata ada fakta yang lebih mengagetkan lagi. VoC ini ternyata tetap saja menginfeksi mereka yang sudah mendapatkan suntikan vaksin poll. Alamak, agresifnya varian baru ini. Mereka yang terpapar VoC mayoritas dari kalangan lansia, padahal lansia adalah penerima vaksin utama selain aparat TNI-Polri, ASN dan tenaga kesehatan.

Mengutip dari beritalima.com yang diunggah pada 29/5/202, komisaris utama PT Biotech Methodologi Tubuh Indonesia sekaligus pengamat militer, Wibisono, menyatakan bahwa tidak ada jaminan mereka yang telah mendapatkan vaksin kebal terhadap Covid, apalagi lansia sangat rentan terhadap virus. Di samping itu lansia rata-rata mempunyai penyakit bawaan yang berat seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit kronis lainnya. Padahal penderita penyakit berat tidak disarankan ikut program vaksin, bukan begitu?

Pertanyaannya, masih efektifkah vaksin? Menurut Wibisono, vaksin yang ada tak akan efektif terhadap virus baru. Vaksin yang ada adalah hasil uji klinis diawal tahun 2020, wajar jika efektifitasnya diragukan. Namun kekagetan kita tidak hanya sampai di sini.

Pejabat China secara mengejutkan membuat pengakuan tentang vaksin Corona yang diproduksi di negaranya. Vaksin-vaksin yang antara lain dibuat oleh Sinovac dan Sinopharm disebut memang kurang manjur menangkal Covid-19. Oh Allahu Rabbi, pengakuan ini sontak membuat galau sedunia, mengingat vaksin buatan China sudah banyak dipakai dimana-mana. Termasuk di negeri Zamrud Khatulistiwa ini tentunya, yang memang apa-apa made in China.

Pengakuan ini disampaikan oleh Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China, Gao Fu. Saat ini China sedang mempertimbangkan untuk membuat vaksin baru berbasis mRNA. Ini juga bukan sembarangan, saya makin ngeri membayangkannya. Namun pun demikian, dalam konferensi pers baru-baru ini, juru bicara vaksinasi Kementerian Kesehatan RI, dr Siti Nadia Tarmizi, memastikan vaksin yang saat ini digunakan oleh Indonesia tentunya, sudah memenuhi standar WHO.

Padahal masalahnya bukan standar tak standar, jika negara yang memproduksi saja sudah jujur dan terbuka meragukan efektifitasnya, kita konsumen yang budiman ini kenapa masih ngotot begitu?

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan belum ada satu pun negara di dunia yang dapat mengatasi pandemi Covid-19. Ditingkatan global termasuk organisasi kesehatan dunia atau WHO disebut tidak memiliki kebijakan yang komprehensif untuk benar-benar mengatasi pandemi. Semua negara, semua organisasi di seluruh dunia masih terus melakukan modifikasi-modifikasi dari kebijakan dan intervensi untuk mencari mana yang paling pas (tribunnews.com, 28/5/2021).

Apa yang disampaikan Budi Gunadi memang benar, segala cara telah diberdayakan namun pandemi belum mampu untuk dihentikan bahkan semakin mengganas. Entah bagaimana di India kini, ditengah meningkatnya kasus infeksi dan kematian akibat Covid-19, para pendeta Hindu berdoa setiap hari kepada dua dewi virus Corona. Dua Corona Devi, yang satu dari kayu cendana dan yang lainnya dari batu, diletakkan di kuil Kamatchipuri Adhinam di kota selatan Coimbatore, negara bagian Tamil Nadu. Wilayah ini terkena dampak parah beberapa waktu terakhir.

Kini India tercatat sebagai negara ketiga dengan kematian tertinggi akibat pandemi setelah Amerika Serikat dan Brazil. Namun itu belum cukup bagi India, kerena kemunculan jamur hitam, Mucormycosis, pada sebagian penderita Covid-19, bahkan pada mereka yang telah sembuh dari serangan virus. Infeksi jamur hitam ini kini bahkan memunculkan varian lain yaitu jamur putih dan jamur kuning. Infeksi jamur ini menambah angka kematian di India.

Nah, di tengah apatisme ini mengapa manusia tidak berhenti sesaat. Mengingat dan mengevaluasi semua perjalanan pandemi ini dari kemunculan hingga penyebarannya yang semakin mengkhawatirkan. Jika memang segala cara telah ditempuh mengapa mereka tidak menggali, membuka kembali bagaimana Islam menuntaskan bencana serupa berabad-abad silam. Mengapa manusia, bahkan komunitas Muslim global enggan kembali kepada Islam? Apa-apa merujuk pada WHO, sementara kajian Islam di depan mata dicuekin begitu saja? Walah.

Sejarah telah mencatat bagaimana Amr bin Ash dengan mustanir menuntaskan problematika wabah yang melanda Syam di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khathab. Semua berangkat dari sunnah Rasulullah SAW. Demikianlah Islam yang paripurna ini terbukti menjadi solusi tuntas bagi segala problematika kehidupan. Bagaimana kemudian lockdown total diterapkan oleh Amr. Kota-kota diidentifikasi dan dievaluasi kemudian sebaran wabah dipetakan.

Kota yang terbakar oleh wabah diisolasi, kota-kota disekitarnya yang bebas dari wabah menyangga kebutuhan obat-obatan dan pangan. Dapur umum didirikan, tabib-tabib didatangkan, koordinasi dilakukan dengan pemimpin-pemimpin daerah yang jauh sekalipun. Tak lama wabah pun mereda. Iman telah menjadi pelopor penyelesaian krisis kehidupan. Islam memadukan iman dan ilmu untuk menjawab problematika kehidupan. Kurang apalagi coba?

Namun, di akhir zaman ini, ketika manusia hidup dalam kubangan sekuler kapitalistik, membincangkan iman sebagai solusi kehidupan ibarat kondisi Nabi Musa yang dikejar Firaun dan terperangkap di hadapan laut merah. Ketika itu, Bani Israil terpojok, sampai ada yag mengatakan, “Tinggal di Mesir lebih kusukai daripada harus mati di sini”. Namun Nabi Musa meminta kaummnya tenang, karena Allah pasti memberi pertolongan. Ketika wahyu turun padanya, tongkat di pukul dan laut pun terbelah lau Bani Israil berduyun-duyun melintasinya.

Proses laut terbelah itu menjadi bahan riset hingga sekarang. Bruce Parker (2012) seorang pakar kelautan menjelaskan proses laut terbelah itu dengan teori pasang-surut air. Napoleon Bonaparte pun tak ketinggalan menapaktilasi jejak Nabi Musa. Ia memeriksa kanal-kanal yang dibangun Fir`aun, termasuk ke Suez. Mereka menemukan penjelasan ilmiah namun pada saat yang sama manusia sekuler sombong menafikan masalah iman.

Sementara kini, jejak kegemilangan Islam mengatasi pandemi dikubur rapat-rapat demi menghadang kebangkitan peradaban Islam, Khilafah Islamiyah yang sangat mereka takuti. Mereka enggan mengambil jalan Islam, bagaimana institusi kaum Muslimin mengatur sistem ekonomi, sistem kesehatan, sistem pendidikan, sistem perindustrian, sistem hukum dan keamanan termasuk politik luar dan dalam negerinya bersinergi dalam satu paket untuk mengatasi pandemi.

Mereka terlalu takut membincangkan jejak emas peradaban Khilafah Islamiyah yang agung, karena kesombongan dan kedengkian di dalam hatinya. Entah berapa nyawa akan melayang sia-sia dan sistem tambal sulam ini terus dipertahankan, hingga mereka lelah atau hingga mereka menyerah pada kuasa Allah.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

One thought on “VoC Covid-19 dan Tongkat Nabi Musa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *