Wacana Kontroversial di Tengah Pandemi

Wacana Kontroversial di Tengah Pandemi

Berbagai polemik yang muncul tidak menghapus kenyataan bahwa masyarakat butuh pengurusan dan perhatian dari pemerintah. Asas sekularisme yang saat ini dipakai telah nyata-nyata membawa kehidupan yang sempit.


Oleh: Dien Kamilatunnisa

POJOKOPINI.COM — Krisis pandemi virus Corona belum usai. Mirisnya, masyarakat kembali pada aktivitasnya untuk mencari penghidupan karena ketidakpastian jaminan kebutuhan pokok oleh penguasa. Disisi lain hampir semua orang bertanya-tanya mengenai kapan pandemi ini berakhir. Alih-alih merumuskan solusi holistik dalam menangani pandemi virus Corona, muncul wacana mengenai Haluan Ideologi Pancasila

Ada tiga poin yang menimbulkan kontroversi yaitu pasal 6, pasal 47 dan TAP MPRS nomor XXV Tahun 1966. Pertama, pasal 6 berisi mengenai ciri pokok Pancasila adalah Trisila yang terdiri dari asas ketuhanan nasionalisme dan gotong royong. Trisila dapat di kristalisasi dalam ekasila yaitu gotong royong. Menanggapi hal ini, beberapa tokoh Islam keberatan karena menganggap Pancasila jadi dikecilkan lewat pasal tersebut.

Kedua, pasal 47 anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila atau BPIP bisa diisi oleh TNI atau Polri aktif. LSM menganggap keterlibatan teritorial aktif dalam lembaga eksekutif mirip seperti orde baru. Kemudian, TAP MPRS nomor XXV tahun 1966 tentang pembubaran partai komunis Indonesia dan larangan menyebarkan paham komunisme/ marxisme – leninisme tak dijadikan peraturan konsideran. Walhasil, sejumlah pihak ormas cemas RUU HIP dijadikan landasan untuk menyebarkan paham komunisme (cnnindonesia.com,17/6/2020).

Pembahasan mengenai Pancasila ini memang sangat sensitif. Sebagian kalangan yang menolak menunjukkan kekhawatiran paham komunisme bangkit kembali. Tentu saja hal ini akan membuka celah sejarah pahit terulang kembali.

Berbagai polemik yang muncul tidak menghapus kenyataan bahwa masyarakat butuh pengurusan dan perhatian dari pemerintah. Asas sekularisme yang saat ini dipakai telah nyata-nyata membawa kehidupan yang sempit. Dalam menangani krisis Pandemi Corona saja belum mampu memberikan solusi yang pasti. Oleh karena itu dibutuhkan peran serius pemerintah dalam menghadapi masalah. Bukan malah menggulirkan wacana yang menambah beban rakyat.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *