Wahai Ibu, Lindungi Puterimu dari Jerat Prostitusi

Ibu menyadari betul, biang keladi hancurnya masa depan generasi akibat bisnis prostitusi adalah karena dicampakkannya hukum Allah untuk mengatur kehidupan dan abainya negara dari urusan pemeliharaan umat. Maka berjuanglah wahai ibu. Selamatkanlah puterimu dari jerat prostitusi dengan memperjuangkan tegaknya Islam kaffah.


Oleh: Ummu Faiza (Pemerhati Ibu dan Generasi. Narasumber WAG Mommies Diary) 

POJOKOPINI.COM — Seorang anak sejatinya hadir membawa kebahagiaan bagi orang tua. Ia adalah amanah yang dititipkan sang Maha Pencipta untuk dibesarkan dan dididik dengan penuh cinta agar menjadi hamba yang bertakwa. Kehadiran anak perempuan adalah keberkahan karena selain sebagai penyejuk mata ia juga wasilah diperolehnya surga bagi orang tua. 

Sungguh ironis melihat fakta yang tersaji saat ini. Dunia prostitusi penuh kemaksiatan kini merambah anak-anak sebagai pelakunya. Sebanyak lima belas anak yang masih di bawah umur ditemukan sebagai pelaku prostitusi di sebuah hotel milik selebritas CA di Tangerang Selatan. Saat penggeledahan terjadi, terdapat 30 kamar yang semua terisi dengan anak-anak di bawah umur. CA sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka bersama REDA sebagai mucikari dan AA sebagai pengelola hotel (CNNIndonesia, 20/3/2021).

Terungkapnya kasus ini langsung mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. Walikota Tangerang Selatan Arief R Wismansyah langsung meminta jajarannya untuk menutup Hotel Alona. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) sendiri melalui ketuanya Arist Merdeka Sirait menyatakan, menyediakan tempat untuk prostitusi anak sudah terkategori melakukan pembiaran terhadap perbudakan seks. Dan pemiliknya bisa dipenjara (CNNIndonesia, 19/3/2021).

Selain kasus Hotel Alona kasus prostitusi online yang melibatkan anak di bawah umur juga terjadi di tempat lain. Di Mojokerto Jawa Timur, komplotan prostitusi  anak beroperasi secara online berkedok info rumah kos. Bahkan sang mucikari, OS juga memperluas jaringan dengan modus reseller. Wakil Kapolda Jawa Timur Brigjen Pol Slamet Hadi Supraptoyo mengatakan kasus itu terungkap usai Subdirektorat V Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim menangkap sang mucikari yang mempekerjakan 36 anak berusia 14 hingga 16 tahun (CNNIndonesia, 2/3/2021).

Gurita Dunia Prostitusi Mengancam Generasi

Jika diteliti, dunia prostitusi yang melibatkan anak-anak di bawah umur sesungguhnya adalah peristiwa lama yang terus berulang. Dengan perputaran perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi transaki yang semula tatap muka langsung di lokasi kini beralih secara online melalui layanan media sosial. Menurut psikolog anak Ghianina Yasira Armand, BSc Psychology, MSc Child development, sekitar 150.000 anak Indonesia dilacurkan dan diperdagangkan untuk tujuan seksual. Prevelensi pelacuran anak di bawah usia 18 tahun di Infonesia mencapai 30 persen. Bahkan beberapa daerah di Indonesia dikenal memiliki usaha prostitusi anak dalam jumlah besar sejak dulu, seperti Semarang, Surabaya, Indramayu, Medan, dan Manado.

Lemahnya peran negara dalam mengantisipasi bahkan memberantasnya ikut menjadi sebab tak kunjung tuntasnya kasus prostitusi ini. Alhasil sindikat prostitusi anak semakin bebas bergerak dan jumlah anak yang menjadi korban pun semakin bertambah. 

Banyak faktor yang menjadikan anak-anak perempuan usia remaja terjerumus ke dalam gurita prostitusi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2015 menganalisa ada enam penyebab prostutusi anak, pertama eksploitasi muncikari. Para mucikari bisa melakukan berbagai tipu daya dan rayuan kepada perempuan bahkan anak-anak di bawah umur untuk akhirnya dijadikan pekerja seks. Kedua, berpikir instan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.  Ketiga karena keterpaksaan, keempat karena pengaruh lingkungan atau teman, kelima faktor gaya hidup hedonis dan keenam karena frustasi. 

Di alam kapitalis, prostitusi adalah bisnis yang menggiurkan karena hanya dengan sedikit upaya, limpahan materi dapat diraih dengan mudah. Bisnis prostitusi layaknya bisnis haram lainnya seperti judi dan penjualan narkoba berjalan di atas rambu-rambu suply and demand, dimana masih ada pihak yang membutuhkan maka ada pihak lain yang akan menyediakan. Wajar jika bisnis ini seakan tak ada habisnya. 

Terus bermunculannya kasus yang sama mengindikasikan tidak seriusnya negara dalam menanganinya. Penanganan sanksi hukum pun berlaku timpang karena hanya mucikari dan penyedia layanan prostitusi saja yang dikenai hukuman, sedangkan pelaku dan pengguna jasa prostitusi melenggang bebas. Pelaku prostitusi dianggap sebagai korban kejahatan penjualan manusia oleh mucikari, sedangkan tak ada jerat hukum bagi pengguna jasa prostitusi karena dilakukan dengan sukarela. 

Gurita Prostitusi adalah Masalah Sistemik

Beban pengasuhan ibu hidup di alam liberalis sekuler memang terasa sangat berat. Belumlah payah bergelut dalam mengelola keuangan keluarga, ibu juga harus berjuang mendidik anak-anaknya agar tetap berada di jalan takwa. Abainya negara dalam menjaga akidah rakyat melalui kebebasan media yang terus menerus meracuni generasi dengan konten sarat ide kebebasan melalui gaya hidup, budaya seks bebas, konten pornografi dan pornoaksi harus dihadapi ibu seorang diri  Gempuran arus kebebasan datang bertubi-tubi dari segala arah menghantam dinding-dinding keluarga. Tak jarang, pertahanan keluarga pun akhirnya runtuh. 

Permasalahn prostitusi dan penjagaan generasi agar tidak terlibat di dalamnya bukanlah sebuah permasalahan sederhana yang bisa diselesaikan secara individu. Sekalipun tanggungjawab orang tua tetap utama namun peran negara haruslah ada. Negara seyogianya bertanggungjawab mulai dari pencegahan yaitu menutup rapat akses yang mengumbar syahwat. Media dilarang keras menebarkan tayangan atau informasi pemicu syahwat, sebaliknya ia tampil sebagai pengedukasi dan corong dakwah Islam. Laki-laki dan perempuan wajib menutup aurat secara sempurna dan menjaga pergaulan hanya untuk aktivitas yang dibolehkan syara. Negara juga harus senantiasa menjaga suasana takwa baik di level individu hingga masyarakat. 

Aspek kuratif dilaksanakan dengan memberi sanksi yang tegas kepada pelaku, mucikari, penyedia layanan prostitusi hingga penggunanya. Diterapkan jilid seratus kali bagi yang belum menikah dan dirajam sampai mati bagi yang sudah pernah menikah. Dengan diterapkannya hukuman ini selain sebagai penebus dosa bagi pelaku juga menimbulkan efek jera bagi yang lainnya dan diharapkan rantai prostitusi akan terputus. 

Di tangan ibu lah pembentukan generasi bertakwa bermula. Generasi yang menjauhkan diri dari nafsu mengejar kenikmatan dunia namun sebaliknya memiliki visi akhirat demi meraih keridaan Rabb-Nya. Kaum ibu menyandarkan sepenuhnya pertolongan dari Sang Maha Penolong dan tak akan berputus asa dari kesulitan yang mendera. Kaum ibu akan senantiasa menjaga dan berupaya memenuhi kebutuhan puterinya melalui jalan halal. Baginya anak perempuannya adalah perisai dari panasnya api neraka. 

Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat” (HR. Ahmad 17403, Ibnu Majah 3669, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kaum ibu tak akan berdiam diri dengan kondisi yang terjadi. Ia akan menjadi bagian dari barisan penyeru diterapkannya aturan Islam secara kaffah. Ibu menyadari betul, biang keladi hancurnya masa depan generasi akibat bisnis prostitusi adalah karena dicampakkannya hukum Allah untuk mengatur kehidupan dan abainya negara dari urusan pemeliharaan umat. Maka berjuanglah wahai ibu. Selamatkanlah puterimu dari jerat prostitusi dengan memperjuangkan tegaknya Islam kaffah.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *