Wahai Kaum Muslimin, Rohingya Memanggilmu

Wahai Kaum Muslimin, Rohingya Memanggilmu

Sekat teritorial dan kewarganegaraan seolah telah menghilangkan kepedulian negara Muslim terhadap penderitaan mereka. Paham nasionalisme juga telah mengikis ikatan aqidah kaum Muslimin, hingga mereka buta terhadap kisah tragis saudara mereka.


Oleh: Mauiza Ridki Al-Mukhtar (Aktivis Dakwah Peduli Umat)

POJOKOPINI.COM — Warga Aceh menyelamatkan sekitar 100 pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di perairan Aceh Utara. Para pengungsi Rohingya meminta meyiapkan kapal yang bagus karena mereka sebenarnya ingin pergi ke Australia dengan harapan untuk melanjutkan kehidupan lebih baik di negeri Kanguru tersebut (liputan6.com,30/6/2020). Hingga saat ini para pengungsi Rohingya masih berada di tempat penampungan sementara bekas gedung Kantor Imigrasi Lhokseumawe dan telah mendapatkan bantuan makanan, pakaian, dan bantuan medis.

Insiden penyelamatan pengungsi Rohingya ini menjadi sorotan dunia dan diliput media asing seperti BBC, Aljazeera, dll. Aksi inipun menuai pujian dari berbagai kalangan internasional karena dianggap sebagai aksi peduli kemanusiaan atau humanity. Disaat negara dunia menolak pengungsi Rohingya karena alasan kewarganegaraan, justru warga Aceh gegap gempita menjadi garda terdepan dalam menolong pengungsi Rohingya. Hal ini membuktikan bahwa ikatan aqidah masih melekat kental pada benak mereka.

Di tengah badai pandemi corona belum usai bahkan infeksi gelombang kedua masih menghantui warga dunia hingga saat ini, penderitaan Muslim Rohingya tampanya belum berakhir. Para ekstrimis Myanmar masih melakukan tindakan brutal pada Muslim Rohingya. Nasib malang terus nenimpa mereka sebagai kaum minoritas, siksaan pedih terus mereka rasakan, penindasan, pembunuhan, pemerkosaan, perbudakan dan pengusiran dari tanah air mereka terus terjadi. Perlakuan genosida dan pembersihan etnis Rohingya ini dilakukan ekstrimis Myanmar hanya satu alasan hal ini dikarenakan mereka Muslim.

Pengungsi Rohingyapun terpaksa melarikan diri dari tanah kelahirannya demi menyelamatkan nyawa mereka. Perjalanan laut menjadi pilihan mereka untuk menepi dan mencari suaka penyelamatan dan perlindungan, namun ironinya setiap kali kapal kaum Muslim Rohingya berlabuh di negara lain, maka penolakan dan pengusiran kembali terjadi. Bahkan negara yang menolak mereka adalah negara mayorita Muslim dengan berbagai alasan mulai dari ketakutan tertular wabah corona hingga kewarganegaraan menjadi alasan utama bagi negara mayoritas Muslim tersebut menolak kehadiran mereka.

Kaum Muslim Rohingya hidup bagaikan manusia perahu, tak jarang mereka banyak yang meninggal di lautan karena kelaparan atau kapal mereka rusak dan tenggelam. Jerit tangis mereka seolah tidak dipedulikan oleh umat manusia, bahkan saudara seiman mereka kaum Muslimin di seluruh dunia.

Paham nasionalisme telah berhasil ditananamkan kaum kafir Barat di benak kaum Muslimin, sehingga menyebabkan negara Muslim terpecah belah menjadi 50 negara bagian di dunia. Sekat teritorial dan kewarganegaraan seolah telah menghilangkan kepedulian negara Muslim terhadap penderitaan mereka. Paham nasionalisme juga telah mengikis ikatan aqidah kaum Muslimin, hingga mereka buta terhadap kisah tragis saudara mereka.

Lembaga Internasional PBB bak Macan Ompong

Tak hanya itu kasus penindasan, genosida dan pembersihan kaum Muslimin etnis Rohingya di Myanmar telah diadukan ke lembaga Internasional PBB. Akan tetapi hingga saat ini lembaga PBB belum mampu menyelsaikan tindakan brutal dan tindakan tak manusiwi tersebut. Lembaga PBB bak macan ompong tak mampu berkutik atas kasus kejahatan HAM (Hak Asasi Manusia) tersebut.

Lembaga PBB yang didirikan kaum kafir Barat tak kan mungkin bisa membebaskan penderitaan kaum Muslimin Rohingya karena kebencian mereka tehadap kaum Muslim hal ini sesuai dengan firman Allah yang artinya:”Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepeda kekafiran), seandainya mereka sanggup,…” (TQS. Al-Baqarah: 217). Berharap pada lembaga PBB sama saja sepertinya bagaikan punuk merindukan bulan, artinya tidak bisa berharap banyak, jauh panggang dari api.

Penderitaan Kaum Muslimin Rohingya akan Berakhir dengan Sistem Islam

Penderitaan kaum Muslimin Rohingya hanya mampu diakhiri dengan sistem yang paripurna/sempurna yaitu sistem Islam. Sistem Islam mampu menyelsaikan seluruh permasalahan umat dari akar sampai ke daun, termasuk kasus penindasan kaum Muslimin etnis Rohingya. Dalam sistem Islam akan menghapus paham nasionalisme dan sekat teritorial wilayah, karena sesungguhnya kaum Muslimin bersaudara sebagimana firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujarat:10).

Khalifah/pemimpin Daulah Khilafah/Negara Islam berfungsi sebagai perisai umat yang akan melindungi seluruh tumpah darah kaum Muslimin. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya:”Imam/Khalifah itu tak lain bagaikan perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang dibelakangnya, dan digunakan sebagai tameng” (HR. Bukhari dan Muslim).

Khalifah tak kan membiarkan satu nyawa kaum Musliminpun mati sia-sia sebagaiman sabda Rasulullah yang artinya: “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang Muslim”(HR. An-Nisa’i). Daulah Khilafah akan memberlakukan sanksi tegas bagi siapa saja melakukan tindakan pembunuhan dengan cara qisas (balasan setimpal) dan denda, Daulah Khilafah akan memerangi negara yang telah melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap warga negaranya.

Seperti kisah seorang Muslimah yang dilecehkan orang Yahudi saat datang ke pasar Bani Qainuqa. Laki-laki itu mengikat ujung jilbab wanita tersebut sehingga tersingkap auratnya. Mendengar hal itu, Rasulullah saw langsung mengirimkan pasukannya dan mengepung Bani Qainuqa selama 15 hari, sampai akhirnya mereka (kaum Yahudi) bertekuk lutut dan menyerah.

Begitu juga dengan perlakuan Khalifah Al-Mu’tashim Billah ketika mendengar jeritan wanita yang meminta tolong ketika ditawan paksa oleh Romawi. Khalifah Al-Mu’tashim Billah mengerahkan ribuan bala tentaranya hanya untuk menyelamatkan satu orang wanita (voa-islam.com). Dan masih banyak kisah lain yang menunjukkan Daulah Khilafah sebagai perisai umat. Sejarah telah membuktikan selama 13 abad umat hidup sejahtera, aman dan tenteram dalam naungan Daulah Khilafah.

Maka dari itu wahai Kaum Muslimin, Rohingya memanggilmu maka dengarkan tangisan dan penderitaanya, tumbuhkan kepedulianmu terhadap mereka, mereka butuh uluran tangan kita, mereka butuh perisai dengan tegaknya Daulah Khilafah. Jika kita hanya mementingkan kepentingan pribadi kita tanpa memikirkan penderitaan saudara kita maka bersiaplah Rasulullah tak kan mengakui kita sebagai umatnya sebagaimana sabda Raslullah SAW yang artinya: “Barang siapa yang bangun di pagi hari tanpa memikirkan nasib saudaranya sesama Muslim sungguh dia bukan dari golongan umatKu” (HR. Baihaqi).

Oleh sebab itu berjuanglah untuk menegakkan Daulah Khilafah, dengan tegaknya Daulah Khilafah akan menghentikan kekejaman kaum kafir yang brutal dan mengakhiri penderitaan kaum Muslim etnis Rohingya. Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]

Picture source by Anadolu Agency

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *