What Doesn’t Kill You Makes You Stronger

What Doesn’t Kill You Makes You Stronger

Rasa itu silakan saja dia datang dan pergi, dia mau berganti pun biarlah berjalan sebagaimana kehendak Allah, tapi setiap rasa harus juga memahami bahwa kita ini adalah hamba bagi Rabb yang Maha memberikan solusi. Berdiri teguh dalam ketaatan adalah jalan tenang dan kelegaan hati dalam setiap keadaan, maka yang menjadi urusan kita adalah taat dan ikhtiar, hasilnya biar Allah yang menentukan.


Oleh: Cut Putri Cory

POJOKOPINI.COM — Ujian memang adalah temannya hidup. Selama nyawa masih dikandung badan, maka ujian pun melekat padanya. Dalam hidup, kita akan menemukan banyak hal yang membuat adrenalin terpacu, bergantian dari satu titik ke titik lainnya. Kita berpindah dari satu ujian ke ujian lain. Yang satu usai, datang ujian lain. Atau bahkan seperti bertubi-tubi.

Begitulah hidup. Namun kita memang pada titik ini tertantang untuk mampu memaklumi cobaan. Lebih dari itu, memaklumi hidup. Karena ujian adalah temannya hidup, maka silih bergantinya adalah keniscayaan.

Pernah makan sayur hambar? Nasi dan segala yang disantap tanpa rasa? Pasti tak terasa nikmat meski ikan diimpor dari Eropa, sayur dari belahan bumi mana. Semuanya biasa saja, bahkan tak menarik, hambar. Dan hidup pun begitu, rasa yang bergantian justru yang membuat hidup kita banyak warna. Tak semua yang manis itu baik, sebagaimana banyak yang pahit justru merupakan obat bagi tubuh.

What doesn’t kill you makes you stronger,” adagium ini masyhur di telinga para petarung kehidupan. Agaknya ini patut memacu semangat dalam setiap rasa yang bergantian. Bukankah rasa sakit itu tak kekal, sebagaimana bahagia pun sebentar. Ini dunia, tak ada ujian yang berkekalan, tak ada yang abadi. Sehingga saat kita merasakan satu ujian, dan ternyata Allah menakdirkan nyawa ini masih menjadi milik badan, maka setiap ujian takkan melemahkan, kita justru harus semakin dan semakin kuat.

Berputus asa dari rahmat Allah bukanlah karakteristik Muslim. Seorang yang mengimani Allah akan sangat memahami bahwa Allah mendewasakannya dengan ujian, Allah takkan membebani di luar kesanggupannya, dan Allah pasti menyelipkan pahala dan jalan keluar untuk setiap ujian.

Kita hanya perlu menjaga agar dalam kondisi apapun tetap berada di atas rel syariat Allah, inilah kavling hidup kita. Ini batasan-batasan yang harus kita jaga. Rasa itu silakan saja dia datang dan pergi, dia mau berganti pun biarlah berjalan sebagaimana kehendak Allah, tapi setiap rasa harus juga memahami bahwa kita ini adalah hamba bagi Rabb yang Maha memberikan solusi. Berdiri teguh dalam ketaatan adalah jalan tenang dan kelegaan hati dalam setiap keadaan, maka yang menjadi urusan kita adalah taat dan ikhtiar, hasilnya biar Allah yang menentukan.

Maklumilah hidup, sehingga kita mampu memaklumi cobaan. “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim)[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *