Wisata Sampah Menghancurkan Imajinasi

Wisata Sampah Menghancurkan Imajinasi

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Kurangnya kesadaran masyarakat membuang sampah pada tempatnya terus menjadi momok bagi setiap daerah di Indonesia. Setiap hari, sampah dibuang sembarangan tanpa memikirkan pencemaran lingkungan. Pencemaran itu juga terjadi di Waduk Pusong, Kota Lhokseumawe, Aceh. Waduk seluas 60 hektare itu dicemari berbagai jenis sampah hingga mengeluarkan bau tidak sedap. (Detik.com)

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Lhokseumawe Dedi Irfansyah, ketika dikonfirmasi Serambinews.com, Minggu (26/1/2020) mengakui hal ini. Dedi juga mengakui pengelolaan dan pemeliharaan waduk Pusong dilakukan UPTD yang secara stuktur dibawah dinas yang dipimpinnya. Namun sekarang ini UPTD tidak bisa bekerja dikarenakan ketidakadaan anggaran. (SerambiNews.Com)

Sebelumnya Dedi juga sempat menguraikan bahwa tahun-tahun sebelumnya UPTD memang memiliki anggaran untuk pengelolaan dan pemeliharaan waduk. Seingat dia, pada tahun 2017, ada dana untuk perawatan waduk Pusong sekitar Rp. 300-an juta dan tahun 2018 ada sekitar Rp. 200-an. Baru mulai tahun 2019, dana tidak tersedia hingga tahun 2020 ini.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kota Lhokseumawe pada tahun 2008-2010 membangun waduk Pusong di pinggiran aliran sungai Cunda. Waduk yang dibangun menghabiskan anggaran Rp 100 miliar lebih ini memiliki multi fungsi. Untuk penampungan air dari pusat kota, agar pusat kota tidak banjir, dan juga sekaligus sebagai lokasi wisata.

Pemerintah Kota Lhokseumawe diminta turun tangan membersihkan sampah di obyek wisata Pantai Ujong Blang, Desa Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti. Pasalnya, bibir pantai itu banyak terdapat sampah plastik dan sampah bekas batok kelapa yang dijual pedagang. Selain itu terdapat juga sampah sisa makanan yang dibawa pengunjung. Dampaknya, kawasan pantai terlihat jorok dan mengganggu wisatawan yang ingin mandi dan berlibur di daerah itu (Kompas.Com)

Sebagai informasi, WWF Indonesia dan IAM Flying Vet pada 2018 mencatat ada 25 kasus biota laut terdampak limbah buangan aktivitas manusia. Semua jenis plastik membahayakan biota laut baik yang makroplastik maupun mikroplastik. Sementara itu, data yang dilansir peneliti lingkungan asal Universitas Georgia AS, Jenna Jambeck, Indonesia masuk dalam kategori penyumbang sampah laut nomor dua di dunia, setelah China. Dari hasil sampling, estimasi total sampah mencapai 1.186.134,41 ton dengan estimasi sampah plastik mencapai 488.095,89 ton.

Dengan banyaknnya sampah yang tidak mampu diurai menyebabkan bau busuk menebar dan memperlihatkan betapa kotornya area tersebut. Konon lagi waduk adalah tempat dimana fungsinya adalah menanggulangi banjir diwilayah tersebut, belum lagi tempat wisata lainnya. Padahal Islam mengajarkan kita untuk mencintai kebersihan. Maka slogan “Kebersihan bagian dari iman” hanya sebuah slogan yang tidak mampu diterapkan oleh umat. Namun Islam punya cara sendiri untuk mengatasi semua permasalahan ini.

Islam mendorong kesadaran individu terhadap kebersihan hingga level asasi dan prinsipil yaitu keimanan terhadap surga dan neraka.
Artinya: Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih (H.R. Baihaqi).

Pemahaman tentang kebersihan yang mendasar ini menumbuhkan kesadaran individual untuk pemilahan sampah, pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri, serta mengurangi konsumsi. Pengurangan sampah secara individual dapat dilakukan dengan mengonsumsi sesuatu secukupnya. Makanan misalnya. Cukup ambil sekiranya dapat menghilangkan lapar. Jangan sampai berlebihan dalam mengambil makanan lalu kita kekenyangan sementara masih tersisa di piring kita. Upaya minimalisir juga tertancap dalam gaya hidup Islami karena setiap kepemilikan akan ditanya tashoruf-nya (pemanfaatannya). Bernilai pahala atau berbuah dosa.

Pada kondisi-kondisi tertentu, upaya individual menjadi sangat terbatas dalam pengelolaan sampah. Contohnya, pada rumah tangga yang tinggal di lingkungan padat, acapkali tidak memiliki pengelolaan sampah mandiri, sehingga hanya mampu mengurangi dan memilah sampah untuk dikumpulkan lalu dipindahkan ke tempat pembuangan berikutnya. Karena itulah upaya pengolahan sampah komunal diperlukan.

Artinya : ”Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (dan) menyukai kebaikan, bersih (dan) menyukai kebersihan, mulia (dan) menyukai kemuliaan, bagus (dan) menyukai kebagusan. Oleh sebab itu, bersihkanlah lingkunganmu”. (HR. At- Turmudzi).

Pengelolaan sampah komunal dilakukan dengan prinsip taawun, bekerja sama dalam kebaikan. Bahkan bisa jadi di antara masyarakat terdapat aghniyaa’ (orang kaya) yang bersedia mewakafkan tanahnya untuk mengelola sampah komunal. Masyarakat dapat dibebani kewajiban membakar, memilah, atau mengelola secara bergantian.

Sejarah Kekhilafahan Islam telah mencatat pengelolaan sampah sejak abad 9-10 M. Pada masa Bani Umayah, jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah-sampah karena ada mekanisme menyingkirkan sampah di perkotaan yang idenya dibangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi. Tokoh-tokoh muslim ini telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, karena di perkotaan padat penduduk telah berpotensi menciptakan kota yang kumuh (Lutfi Sarif Hidayat, 2011).

Sebagai perbandingan, kota-kota lain di Eropa pada saat itu belum memiliki sistem pengelolaan sampah. Sampah-sampah dapur dibuang penduduk di depan-depan rumah mereka hingga jalan-jalan kotor dan berbau busuk (Mustofa As-Sibo’i, 2011).

Kebersihan membutuhkan biaya dan sistem yang baik, namun lebih dari itu perlu paradigma mendasar yang menjadi modal keseriusan pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah bukan jasa yang dikomersialisasi hingga didapatkan uang kompensasi dalam penyediannya. Bukan pula sebuah beban yang harus ditanggung pemerintah hingga terlalu berat mengeluarkan dana membiayai benda yang tak berharga.

Pengelolaan sampah merupakan upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Kesehatan sendiri merupakan kebutuhan sosial primer yang dijamin dalam Islam selain pendidikan dan keamanan. Pengelolaan sampah masyarakat tak boleh bertumpu pada kesadaran dan kebiasaan masyarakat, karena selain kedua hal itu tetap dibutuhkan infrastruktur pengelolaan sampah. Kondisi permukiman masyarakat yang heterogen, adanya pelaku industri yang menghasilkan sampah dalam jumlah banyak, dan macam-macam sampah yang berbeda penanganannya, meniscayakan peran pemerintah bertanggung jawab atas pengelolaan sampah masyarakat.

Edukasi masyarakat dapat dilakukan pemerintah dengan menyampaikan pengelolaan sampah yang baik merupakan amal shalih yang dicintai Sang Pencipta. Secara masif disampaikan kepada masyarakat bahwa sebagai khalifah fil’ardh, manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai perlindungan terhadap makhluq Allah selain dirinya. Tertancapnya pemahaman ini akan meruntuhkan penyakit individualisme dalam memandang persoalan sampah.

Pemerintah sebagai pelayan masyarakat memastikan keberadaan sistem dan instalasi pengelolaan sampah di lingkungan komunal di permukiman yang tidak dapat mengelola sampah secara individual, di apartemen, rumah susun dan permukiman padat misalnya. Pemerintah harus mencurahkan segala sumber daya agar sampah terkelola dengan baik. Dana dicurahkan untuk mengadakan instalasi pengelolaan sampah. Pemerintah mendorong ilmuwan menciptakan teknologi-teknologi pengelola sampah ramah lingkungan, mengadopsinya untuk diterapkan, Wallahu ‘Alam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *