Ya Allah, Mereka masih Sepakat Mengurus Negeri dengan Kapitalisme

Ya Allah, Mereka masih Sepakat Mengurus Negeri dengan Kapitalisme

Dalam kapitalisme setiap orang bebas memiliki apa saja, di mana saja, berapa saja dan kapan saja. Maka salah satu penampakannya yang bisa kita lihat hari ini di negara kita. Perusahaan asing bisa menguasai tambang di negara kita tanpa ada batasan jumlah dengan waktu yang sangat lama. Akibatnya negara pemilik tambang yang menuai dampak buruknya.


Oleh: Ummu Afkar (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — PAN dan PKS sebagai partai oposisi mengapresiasi kebijakan stimulus covid 19 jokowi 405,1 trilyun itu dengan catatan, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia (01/04/2020). PAN mengingatkan agar pemerintah hati-hati menggunakan kebijakan defisit anggaran sampai dengan 5%. Karena defisit ini akan mengakibatkan hutang baru sekitar kira-kira Rp 830 triliun per tahun.

PKS memberikan dua catatan. Pertama, pemerintah jangan terfokus menjaga daya beli, tapi memberi BLT dan sembako kepada masyarakat lapisan paling bawah di kota-kota. Kedua, mekanisme basis data BLT jangan selalu menggunakan data Kemensos karena ada banyak pekerjaan informal yang tidak masuk data penduduk miskin sekarang jatuh miskin akibat tidak ada penghasilan.

Sementara PKB sebagai partai koalisi pemerintah mendukung penuh kebijakan tersebut, terutama dalam tiga hal. Yakni larangan mudik lebaran, gratis listrik tiga bulan ke depan, dan peningkatan jumlah penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, sumber pembiayaan tersebut bisa didapat dari Sisa Anggaran Lebih (SAL), dana abadi, dana yang dikelola oleh Badan Layanan Umum (BLU), pengurangan penyertaan modal negara (PMN) kepada BUMN, penghematan belanja negara sekitar Rp190 triliun baik dari anggaran kementerian/lembaga maupun transfer ke daerah, dan realokasi cadangan Rp54,6 triliun, dan dana yang disiapkan oleh sejumlah lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan ADB. (merdeka.com, 01/04/2020)

Penguasa Terjebak Kapitalisme

Tampak jelas bahwa negara kita masih diurus dengan kapitalisme. Dan ini disepakati oleh para penguasa, yang sebagian besar adalah Muslim. Mari kita analisa faktanya berikut ini.

Pertama, penguasa hanya fokus mengurusi keselamatan rakyat yang terkategori miskin saja. Sementara jika dinilai mampu atau kaya, diminta berpikir sendiri biaya kebutuhan hidupnya. Padahal kita tau, seluruh hajat hidup publik sudah dikapitalisasi. Artinya ada uang ada layanan. Penguasa menjual layanan untuk rakyat.

Kedua, pemerintah dan dewan menyepakati pendanaan negara melalui penghasilan BLU. Pengertiannya, instansi pemerintah memiliki unit bisnis atau bahkan dikelola seperti perusahaan untuk menjual layanan kepada rakyat. Inilah salah satu bentuk kapitalisasi (bisnis) hajat hidup rakyat.

Apa saja bisa dijadikan dalih untuk membenarkan kebijakan ini. Padahal konsekuensi dari hal tersebut, rakyat ditarik biaya dua kali. Yaitu lewat pajak, kemudian melalui pembayaran pemanfaatan layanan publik yang seharusnya diupayakan gratis oleh penguasa.

Ketiga, penguasa tidak mempermasalahkan pengurangan PMN kepada BUMN. Padahal bukankah ini membahayakan negara? BUMN bisa dominan dimodali oleh swasta. Bahkan swasta asing. Konsekuensinya BUMN kita akan disetir oleh swasta yang dominan berpikir untung rugi. Hajat hidup rakyat yang dikelola BUMN semakin mahal. Bahkan BUMN juga bisa dibajak sehingga bangkrut dan dibeli oleh asing. Na’udzubillah.

Keempat, penguasa tidak keberatan dengan pembiayaan berbasis hutang ribawi. Padahal ini negeri mayoritas muslim. Penguasanya juga sebagian besar muslim. Tapi tidak takut menempuh jalan riba. Perbuatan yang diharamkan Allah. Perbuatan yang diancam perang oleh Allah kepada orang yang sudah dinasehati, tapi tetap melakukannya.

Maka hari ini saya menasehati penguasa. Wahai Pengurus Negeri, berhentilah kalian dari utang ribawi! Kami tak sanggup menanggung derita diperangi Allah.

Akar Kekeliruan Kapitalisme

Kapitalisme merupakan konsep berekonomi hasil pemikiran para ekonom sekuler. Mereka tidak menggunakan tuntunan agama dalam berekonomi. Begitu juga di bidang lainnya. untuk mengatur kehidupan, termasuk tata cara berekonomi. Mereka trauma persekongkolan jahat oknum gerejawan dengan raja yang membuahkan kebijakan-kebijakan zalim kepada rakyat yang dibenarkan atas nama agama.

Jika kita membaca pembahasan di banyak literatur. Kita temukan konsep kapitalisme ini terus berkembang dan bermetamorfosis. Walaupun sebagian orang menilai, ini sebenarnya bentuk kegagalan kapitalisme menyelesaikan berbagai problematika kehidupan. Ibarat selalu dalam keadaan menyelesaikan masalah dengan masalah.

Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam berbagai tulisan beliau memahamkan kita bahwa kapitalisme ini merupakan sebuah ideologi. Basisnya adalah keyakinan bahwa agama harus dipisahkan dari negara, bahkan dari kehidupan. Inilah yang dikatakan paham sekulerisme. Ideologi ini dinamakan kapitalisme karena memang ajaran yang paling khas dan merusak adalah paham ekonominya. Yaitu kebebasan kepemilikan.

Dalam kapitalisme setiap orang bebas memiliki apa saja, di mana saja, berapa saja dan kapan saja. Maka salah satu penampakannya yang bisa kita lihat hari ini di negara kita. Perusahaan asing bisa menguasai tambang di negara kita tanpa ada batasan jumlah dengan waktu yang sangat lama. Akibatnya negara pemilik tambang yang menuai dampak buruknya.

Konsep ekonomi kapitalisme telah menghasilkan konglomerat-konglomerat yang rakus dan terus menghisap sumber daya yang ada. Akibatnya ketimpangan antara yang miskin dan kaya semakin besar. Negara dilemahkan, sehingga hanya dianggap baik jika berfungsi sebagai pembuat aturan plus wasit. Itupun jika ada yang komplain. Akhirnya negara yang lemah ini tidak mampu lagi mengurusi pembangunan dan kehidupan rakyatnya kecuali dengan berhutang. Dan metode berutang yang cocok menurut kapitalisme, adalah hutang berbunga. Karena nilai mata uang didapati terus menurun dari tahun ke tahun.

Cara lain untuk menambah pemasukan negara, mereka menarik pajak dari rakyat dengan tidak pandang bulu. Dari hari ke hari bisa semakin meningkat dan semakin luas perkara yang dikenakan pajak.

Kemudian karena pajak secara umum dirasakan membebani, maka dipikirkanlah konsep yang sekarang kita kenal dengan reinventing government (pemerintah wirausaha). Negara dikelola dengan prinsip bisnis. Memperhitungkan untung rugi dalam penyediaan layanan untuk rakyat. Harga jual harus menguntungkan sehingga menambah pendapatan negara. Kalau tidak untung dijual di dalam negeri untuk rakyat, maka akan diimpor ke negara-negara yang sanggup membeli dengan harga tinggi.

Begitulah sedikit gambaran kapitalisme. Mereka tidak berpikir untuk mencari akar masalah. Ada yang mereguk keuntungan besar ketika dunia dicengkeram kapitalisme seperti sekarang ini. Merekalah para kapitalis. Mereka masuk ke segala lini, organisasi dan bahkan mengintervensi suatu negara dengan menempatkan antek-anteknya. Dengan mengamankan kapitalisme, aliran harta terus masuk ke pundi-pundi mereka.

Bagaimana dengan negeri-negeri Muslim? Mengapa saat ini seolah kita tak bisa lepas dari kapitalisme? Pasca keruntuhan kekhilafahan terakhir di Turki, negeri-negeri Muslim tercerai berai menjadi lebih dari lima puluh negara.Semua bagaikan anak ayam kehilangan Induk. Tak tau harus mengekor siapa. Hingga akhirnya terpaksa membuntuti Kapitalisme, serigala berbulu domba. Padahal kaum Muslimin punya Al-Qur’an dan As Sunnah sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. Dan ini sudah digaransi oleh Allah. Rasulullah teladan terbaik manusia telah memberi contoh dari bangun tidur sampai bangun negara.

Penutup

Wahai Kaum Muslimin! Baik kalian dari kalangan rakyat biasa maupun penguasa. Masalah demi masalah yang kita hadapi saat ini semata-mata akibat ditinggalkannya petunjuk Allah dalam pengurusan kehidupan. Bukankah Allah telah mengingatkan kita dalam Surat Thaha Ayat 124:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
Artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta“.

Maka bersegeralah kita kembali kepada aturan Allah. Menegakkan sistem Islam Kaffah yang tidak menyerahkan pembuatan aturan kepada akal manusia semata. Melainkan senantiasa merujuk kepada tuntunan Sang Pencipta. Al-Qur’an dan As Sunnah yang mulia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *